HOME:HALAMAN UTAMA
  Warta DBE3 JATIM VII
  
 Berita Dari Lapangan
 Mengenai Kami
 100 Kunjungan Terakhir
  

  
 Login
  
Login:
Pass:
Register?
  

 Serba - Serbi

 Halaman 8



Gaya Kepemimpinan Majelis Mengubah SMPN 2 Wonoayu Menjadi Sekolah DAHSYAT

Oleh: Drs. H. Rodhi As’ad, MM, Kepala Sekolah SMPN 2 Wonoayu Kabupaten Sidoarjo

SEJAK berdiri pada 1995 hingga 2004, SMP Negeri 2 Wonoayu belum memperlihatkan perkem- bangan yang berarti meskipun telah ditunjang berbagai bantuan pemerintah seperti BOMM/MPMBS, Sekolah Target, pelatihan Contextual Teaching and Learning, Pengembangan Klub Olah Raga Sekolah dan Sekolah Standar Nasional.

Beberapa masalah yang kerap muncul antara lain: (1) pembelajaran berjalan tidak baik, (2) kenakalan siswa tidak tertangani dengan maksimal, (3) kurang ada prestasi akademik maupun non akademik, (4) perselisihan antara kepala sekolah dengan guru, guru dengan guru, (5) kinerja pendidik dan tenaga kependidikan kurang optimal (6) Sarana-prasarana pendukung belum lengkap, dan, (7) kurangnya komunikasi pihak sekolah dengan masyarakat dan orang tua peserta didik.

Sejak mendapat tugas di sekolah ini pada 2004, saya bertekad melakukan perbaikan dengan memanfaatkan seluruh potensi warga sekolah. Selain itu saya juga memandang penting untuk mencari kesempatan dalam menjalin kemitraan dengan pihak lain yang mempunyai visi peningkatan mutu pendidikan seperti program DBE3. Kehadiran program DBE3 di sekolah kami menjadikan berbagai usaha yang kita pikirkan menjadi kenyataan. Beberapa hal yang telah saya lakukan diantaranya adalah:

1. Gaya Kepemimpinan Majelis.

Bagi saya perubahan bakal terjadi jika saya menggunakan gaya kepemimpinan yang bisa diterima oleh seluruh warga sekolah. Maka saya memilih gaya kepemimpinan egaliter yang saya sebut sebagai gaya kepemimpinan majelis. Sebuah gaya kepemimpinan yang lebih mementingkan kebersamaan, keteladanan, tidak banyak petuah, tanpa membedakan strata dan menjaga komitmen bersama.

2. Revolusi Pembelajaran.

Sejak 2009, SMPN 2 Wonoayu terpilih menjadi mitra DBE3 Jawa Timur. Sejak itu saya semakin yakin bahwa upaya perbaikan semakin cepat terwujud dan bertekad untuk melakukan revolusi pembelajaran pada seluruh guru SMPN 2 Wonoayu. Upaya ini juga tidak mudah karena DBE3 hanya melatih 15 orang guru dari 46 guru yang ada. Sehingga saya perlu mendukung para guru yang telah mendapatkan pendampingan DBE3 agar benar-benar menerapkan pembelajaran bermakna. Tidak lama setelah itu sekolah saya langsung melaksanakan diseminasi pelatihan BTL dengan mengundang beberapa instruktur DBE3 Jawa Timur secara mandiri .

3. Pemajangan Hasil Kerja Siswa.

Sejak menjadi mitra DBE3 Jawa Timur, guru dan kepala sekolah berupaya untuk menerapkan berbagai hal yang telah diperoleh dalam pelatihan. Pemajangan hasil kerja siswa dapat menumbuhkan rasa percaya diri mereka dan bisa menjadi salah satu sumber belajar di antara mereka. Sehingga di dalam kelas telah disediakan tempat pemajangan karya siswa yang terbuat dari spon berwarna agar tahan lama.

4. Pemantauan Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP).

Guna mendukung rencana guru dalam menerapkan pembelajaran siswa aktif, saya mengadakan rapat dengan guru untuk membahas rencana pelaksanaan pembelajaran mereka setiap bulan sekali. Bersama fasilitator daerah dan bantuan beberapa guru senior memberikan umpan balik dan koreksi terhadap RPP yang dibuat guru dan memberikan bantuan bagi guru yang memiliki kendala. Salah satu perbedaan mendasar program DBE3 dengan program lainnya adalah adanya pendam- pingan bagi guru di sekolah masing-masing dengan melibatkan manajemen sekolah. Hal ini memungkinkan para guru untuk bisa menerapkan hasil pelatihan.

Hasil atau Dampak yang Dicapai

Sedikit demi sedikit SMPN 2 Wonoayu menuju perubahan yang sangat berarti dan menjadi salah satu sekolah yang cukup diminati oleh masyarakat Sidoarjo. Kepemimpinan majelis menjadikan suasana sekolah cukup kondusif untuk proses belajar mengajar. Hubungan antar warga sekolah menjadi harmonis karena konflik antar individu dapat diperkecil. Berbagai upaya perbaikan di bidang kurikulum, kesiswaan, ketenagaan, sarana prasarana, transparansi pengelolaan keuangan dan perilaku kepemimpinan menjadikan SMPN 2 Wonoayu menjadi sekolah DAHSYAT (Dinamis, Aktif, Harmonis, Santun, Yakin, Andal, dan Taqwa).

Salam dari Wonoayu. ¨


Warta DBE3 Jatim diterbitkan DBE3 Provinsi Jawa Timur dengan dukungan dana USAID untuk mendokumentasikan dan menyebarkan inovasi serta praktik-praktik terbaik yang terkait dengan pendidikan dasar.

Redaksi menerima kontribusi berupa tulisan dan foto kegiatan. Kontribusi tulisan dan foto (maksimal 1 MB) dikirimkan melalui email: nprabowo@savechildren.org


Untuk info lebih lanjut mengenai DBE3,
kunjungi:

www.inovasipendidikan.net

www.dbe-usaid.org