|
SMP Swasta Bukit Cahaya Sumbul:
Life Skills untuk Anak Pak Tani
PAK MARANGGUN MANIHURUK berkisah tentang “mikroskop” sederhana yang pernah dibuatnya. Kala itu, dia sedang mengampuh kelas biologi tentang teori sel. Dia ingin menujukkan kepada anak didik bagaimana benda kecil bisa dilihat. Tapi sekolahnya tidak punya mikroskop. Pak Manihuruk tidak habis akal. Dia memanfaatkan bambu yang tumbuh liar di sekitar sekolah.
Bambu ditebang lalu batangnya dibelah menjadi potongan tipis. Potongan itu dilubangi dengan pisau dapur. Kemudian lubang dilumuri air liur sampai membentuk gelembung. Dari atas gelembung air liur itulah Pak Manihuruk menujukkan proses pembesaran terjadi. “...pembesarannya bisa sampai lima kali,” ucap Pak Manihuruk dengan yakin.
|
Sumber Belajar. Pekarangan sekolah yang berumput hijau menjadi tempat sekaligus sumber belajar yang menarik bagi siswa.
Foto: Erix Hutasoit-DBE3/SUMUT
|
Kisah Pak Manihuruk adalah sekelumit dari cerita panjang SMP Swasta Bukit Cahaya di Sumbul, Kabupaten Dairi. Menurut Bapak Bintara Turnip, SH, S.Pd sekolah yang dipimpinnya itu berada di lokasi yang “unik”. Keunikan terletak pada rendahnya angka partisipasi. Berada di dataran tinggi membuat siswa sekolah ini kebanyakan adalah anak petani. Seperti kisah anak petani lainnya yang harus bekerja di ladang. Sehingga banyak anak tidak pergi ke sekolah. Maka cerita serupa juga terjadi di sini. Pak Turnip sadar akan kondisi wilayahnya. Dia rajin mengunjungi rumah penduduk untuk mendiskusikan manfaat pendidikan.
Tapi Pak Turnip juga sadar, pendidikan harus punya manfaat praktis bagi si anak. Kalau tidak ada, pendidikan tetap dianggap tidak berguna. Menjawab tantangan itu, Pak Turnip menggunakan life skills (kecakapan hidup) sebagai solusi. Siswa tidak sekadar belajar teori di kelas, tapi didorong untuk memanfaatkan alam sekitar. Misalnya, siswa memanfaatkan lahan pertanian bersama guru IPA. Mereka mengembangkan tanaman kentang hidroponik. Lewat cara ini, umbi kentang yang aslinya tumbuh di tanah, kini sudah bisa tumbuh di media lain. Selain itu, siswa menanami tanah-tanah kosong dengan tanaman kopi. “ … pohon kopi itu milik mereka (siswa-red) yang kelak bisa mereka gunakan,” kata Pak Turnip.
Pak Turnip memberikan contoh sederhana lain bagaimana siswa di sekolahnya memanfaatkan alam. Seperti siswa kelas IX, mereka diminta memelihara dua ekor ayam kampong sampai bertelur. Telur ayam dilarang dijual. Menurut Pak Turnip, sekali bertelur ayam bisa menghasilkan sepuluh butir telur. Ayam jenis ini biasanya bertelur dua kali setahun. Setelah dipelihara setahun ayam tersebut bisa dijual Rp. 50.000,- per ekor. ”Jika ada 40 ekor saja, sudah dua juta. Itu sudah cukup untuk biaya si anak,” pungkas Pak Turnip. (EH/DBE 3)
|
"...Kalau mereka tidak mampu lagi melanjutkan sampai SLTA. Kalau ada lahan orang tuanya, mereka sudah mampu mengelolanya..."
Bpk. Bintara Turnip, SH, S.Pd Kepala SMP S Bukit Cahaya
|
|