Rukmana Kembangkan ICARE
Ada beragam cara mengatur proses dan tahapan pembelajaran. “Di antara semua itu, cara ICARE sangat efektif,” ucap Rukmana, District Facilitator DBE3.
Guru SMPN Telukjambe ini merasa “jatuh-cinta” dengan ICARE.
Tak heran bila ia kemudian selalu menggunakan pola ICARE, baik di sekolah maupun di ruang pelatihan dan lokakarya. “Saya rasakan tahap-tahapnya begitu logis dan runtut. Setiap tahap memiliki latar, tujuan, kegiatan, dan waktu yang sangat jelas,” dalihnya.
|
Rukmana (kiri) di Lebak, Banten.
|
Memang sejak awal, DBE3 mendesain paket-paket pelatihannya dengan mengikuti tahap Introduction (I), Connection (C), Aplication (A), Reflection (R), dan Extension (E). “Pak Rukmana suka bernyanyi ICARE di awal pelatihan,” ungkap Dudi, guru SMPN 2 Kotabaru Karawang.***
|
Rukmana (pegang mik)saat memfasilitasi ToT.
|
H. Masykur Mansur
Ada Gairah Baru di MTs
Setidaknya sejak 2006 muncul gairah baru di madrasah. Ini menyusul implementasi program DBE3 di Karawang.
“Guru-guru tampak lebih percaya diri mengajar,” ungkap H. Masykur Mansur, Kasi Mapenda Depag Karawang. “DBE3 telah memberikan suntikan penting bagi dunia madrasah,” ujarnya lagi.
|
Masykur saat mengikuti ToT Paket Whole School di Indramayu
|
Ia begitu yakin bahwa integrasi life skills ke dalam proses belajar di MTs bermanfaat ganda. Pertama, proses pembelajaran itu sendiri menjadi aktif dan partisipatif, karena berfokus pada penempaan kecakapan hidup siswa. Kedua, siswa mendapatkan bekal yang cukup, baik untuk melanjutkan studinya maupun untuk berkiprah di tengah masyarakat.
Maka, Masykur mendukung Bupati, program DBE3 yang terbatas di 4 kecamatan ini, perlu diseminasikan ke kecamatan lain. “Itulah sebab kami telah mereplikasi DBE3 di MTsN Jatisari,” katanya. ***
Trisno Sri Hartono
Dukung DBE3, Bersafari Jabar-Banten
Guru SMPN 1 Pelabuhan ratu ini menjadi District Trainer DBE3 sejak 2006. Ia memusatkan perhatiannya pada life skills (modul 2). Karena kinerjanya, ia lalu diangkat menjadi Core Trainer untuk ToT tingkat Jabar. Ia lalu menjadi fasilitator untuk lokakarya DO Prevention dan LRB training.
|
Trisno (kanan) dan DT tengah menyusun kegiatan tindak-lanjut di Bandung.
|
Untuk pengabdian ini, tak pelak ia harus berkeliling Jabar dan Banten. Ia memfasilitasi pelatihan-pelatihan DBE3 di berbagai daerah. “Caranya melatih amat bagus dan mengesankan,” aku seorang peserta LRB training di Tangerang. “Kami suka belajar sama beliau,” ujar siswanya.
“Saya terapkan juga jurus-jurus pembelajaran DBE3 itu di sekolah,” jelas Trisno. “Pendidikan life skills itu induk semang kehidupan. Ia dapat mengubah masyarakat Pelabuhan ratu,” tandasnya.***
|
Trisno (kanan) dan Awaluddin Hamzah pada LRB training di Karawang.
|
Susul Konsultasi Remaja
DBE3 Cegah Drop Out
DBE melakukan ‘konsultasi remaja’ dengan menanyai remaja tentang belajar di sekolah. Suara remaja ini mengisyaratkan sejumlah masalah pokok yang kerap mengakibatkan dropout. Masalah ini merentang sejak rasa tidak aman, kemiskinan, kondisi keluarga, hingga kenyamanan belajar di sekolah.
Menyusul konsultasi ini, kata Trsino Sri Hartono (DT DBE3 Jabarten), diselenggarakanlah pelatihan Dropout Prevention (Pencegahan Dropout). Pelatihan ini dilaksanakan di Sukabumi, bersamaan dengan 2 kabupaten lain di Jabar dan 3 kab./kota di Banten.
Di Sukabumi, pelatihan ini melibatkan 16 (8 pria, 8 wanita) Remaja dan 18 (16 pria, 2 wanita) guru/pembina OSIS. “Survey kepuasan siswa perlu dilakukan untuk mencegah dropout,” ucap guru lain.
Lebih jauh, Trisno mengatakan, siswa suka dengan cara belajar yang ditawarkan Tooklit DO Prevention, “Mereka jadi betah belajar di sekolah dan tidak pernah terpikir untuk keluar,” ungkapnya.***
|