|
Berita Dari Provinsi
|
Halaman 7
|
Layang-layang di Text Procedure
POLTAK SIMAMORA , siswa kelas IX, girang tak terkira. Ia tidak percaya mampu membuat layang-layang sambil belajar bahasa Inggris.
PAGI itu, Ibu Sulilawaty S.Pd, guru Bahasa Inggris SMPN 5 Tarutung yang juga DF DBE3 mengampu text procedure sebagai kompetensi dasar yang ia ajarkan. Ibu Susi tidak cuma peduli soal kecantikan, tapi ia juga tidak mau mengajar tanpa inovasi. Text procedure yang lazim diajarkan dengan cara ceramah, ia modifikasi menjadi aktivitas yang menyenangkan. Ia mengajar text procedure dengan membuat layang-layang.
Ruang kelas yang ia ampuh mirip ruang keterampilan. Ada kertas berwarna, benang nilon, batang bambu, lem kanji, gunting, pisau. Semua itu adalah bahan untuk membuat layang-layang. "Siswa diminta membawanya dari rumah," terang Ibu Susi.
Ibu Susi membuka pembelajaran dengan menulis target pembelajaran hari itu. Tidak lupa ia memotivasi siswanya supaya mam-pu mengerjakan semua tugas dengan baik. Selesai memotivasi, Ibu Susi menempelkan kertas besar. Di kertas itu Ibu Susi menuliskan sejumlah kata-kata. Ada kata frame, share blade, bamboo stick dan lainnya. Kata-kata yang ada maknanya berhubungan dengan pembuatan layang-layang." Itu adalah kata-kata yang menjadi target pembelajaran, " kata Ibu Susi.
Ibu Susi mengajak siswa mengucapkan kata-kata itu satu-persatu. Ia memastikan siswa mengucapkan dengan benar. Selanjutnya, ibu Susi memberikan lembaran kerja (LK) yang pertama. LK itu terdiri atas kata-kata berbahasa Inggris dan Indonesia. Siswa diminta menjodohkan kata-kata itu. Misalnya cross harus dijodokan dengan kata salib. Penjodohan didasarkan pada arti dari kata. "Penjodohan dimaksudkan agar anak familiar dengan kata-kata itu dan tahu artinya," terang Ibu Susi lebih lanjut.
Proses penjodohan berlangsung menarik. Mereka ingin secepat mungkin menyelesaikan LK 1. Proses penjodohan dilakukan secara berpasangan. Ibu Susi mengecek kebenaran kata-kata yang dijodohkan. Ia meminta hasil kerja siswa diperiksa oleh siswa yang lain. Riak riuh meledak. Ternyata ada siswa yang keliru menjodohkan kata-kata itu. Kesilapan itu akhirnya menghasilkan tawa riang.
Selesai dengan LK 1, Ibu Susi melanjutkan pembelajaran dengan LK 2.
|
|
|
Foto (atas - bawah): Siswa mengerjakan LK 1; Ibu Susi menunjukan kerangka layangan; siswa membuat layang-layang; siswa menunjukkan hasil kerja kelompok-nya; seluruh siswa memamerkan layang-layang hasil pembelajaran; Ibu Susi bersama kepala sekolah dan rekan guru.
|
Kali ini Ibu Susi memberikan kata-kata acak yang membentuk satu kalimat. Misalnya: let - me - you - how to - make - show - a kite. Siswa diminta untuk menyusun kata acak itu menjadi kalimat yang utuh. Ada delapan baris kata acak yang harus dijadikan menjadi delapan kalimat. "Delapan kalimat itu adalah tahapan membuat layang-layang. Kata-kata yang ada dalam setiap kalimat adalah kata yang ada pada LK 1," imbuh Ibu Susi.
Menurut Ibu Susi, LK 1 membantu siswa mengenali kata-kata yang akrab digunakan dalam pembuatan layang-layang. Proses pengenalan ini membantu siswa mengetahui arti kata dan kegunaanya. Sedangkan LK 2 membantu siswa mengetahui tahapan pembuatan layang-layang. "Jika mereka sudah tahu tahapan pembuatannya, maka mereka akan bisa membuatnya," terang Ibu Susi.
Proses pengerjaan LK 2 dilakukan secara berkelompok. Siswa diminta menuliskan ulang kalimat yang benar dalam kertas besar. Setelah itu hasil kerja mereka ditempelkan di dinding dan dikoreksi bersama-sama. Ibu Susi memandu penyusunan kalimat itu. Riuh kembali membahana. Ternyata siswa masih keliru menyusun kalimat. Hanya ada dua kelompok yang berhasil menyusun delapan kalimat itu dengan baik. Selesai dengan urutan kalimat, ibu Susi memberi LK3, siswa diminta mengurutkan tahapan membuat layang-layang. Tahapan ini dikerjakan secara berkelompok.
Siswa lebih mengerjakannya, karena mereka sudah mengetahui arti dari setiap kalimat. Setelah yakin dengan tahapannya, siswa segera bekerja membuat layang-layang. Setelah itu, salah satu utusan kelompok diminta mempresentasikan kerja kelompok. Utusan itu membawa serta layang-layang yang dibuat. Ia menjelaskan tahap demi tahap pembuatannya. Tepuk tangan pecah seketika. Senyum dan tawa muncul seantero kelas. Siswa menunjukkan dengan bangga layang-layangnya. Bel tanda jam pelajaran berbunyi. Siswa kembali riuh. Mereka tak sabar bermain di lapangan.
|
Inovasi Pendidikan: Media
Komunikasi SMP dan MTs
|
Edisi 09/Februari 2011
|
|