Inovasi Pendidikan
USAID Indonesia Inovasi Pendidikan DBE Indonesia
 HOME:HALAMAN UTAMA
  Berita DBE3 EDISI 9
 Berita Dari Lapangan
 Mengenai Kami
 100 Kunjungan Terakhir
  

  
 Login
  
Login:
Pass:
Register?
  

 Berita Utama

Halaman 4 


SMP Negeri 1 Tellulimpoe

Sekolah yang Menginspirasi

Drs. Muslimin Kepala SMPN 1 Tellullimpoe, Sidrap, Sulawesi Selatan, pada acara rapat Kaji Ulang dan Perencanaan Nasional DBE di Surabaya, berkesempatan memaparkan berbagai perubahan yang terjadi di sekolahnya sebagai dampak dari pendampingan DBE3. Apa yang membuat sekolah ini menjadi sekolah inspiratif?

Kepala Sekolah Sebagai Change Maker
Change is the only evidence of life. Muslimin, sang kepala sekolah, yakin betul akan hal itu dan berupaya menanamkannya dalam benak setiap guru dan staf di sekolahnya. Ada beberapa langkah perubahan yang dilakukannya. Pertama, dirinya terus-menerus meyakinkan guru bahwa pembelajaran itu berarti menumbuh-kembangkan segenap potensi atau kecerdasan siswa. Setiap siswa memiliki kecerdasan yang berbeda-beda. Untuk mengembangkannya dibutuhkan cara dan proses yang tepat.

Kedua, Ia meminta guru supaya fokus pada peningkatan kriteria ketuntasan minimal pembelajaran setiap mapel. Ini penting untuk mengukur produktivitas pengajaran guru. Namun, ia selalu menyosialisasikan ke guru agar tidak memvonis siswa bodoh karena hasil buruk tes formalnya. Menurutnya kecerdasan tidak dibatasi tes formal. Ia optimis kalau potensi atau kecerdasan itu selalu dinamis. Oleh karena itu, ia yakin kalau hasil UN bukanlah alat satu-satunya untuk mengukur sebuah kesuksesan pembelajaran. Tapi, dirinya memandang pembekalan kecakapan hidup sangat penting, dan itu dimulai dengan mengintegrasikannya saat pembelajaran.

Di SMPN 1 Tellullimpoe, seluruh kelas berbasis laboratorium, pembelajaran kontekstual membudaya di semua mapel, pembelajaran terbiasa memanfaatkan media yang terjangkau, dan kreasi hasil karya siswa sudah memanfaatkan TIK.

Ketiga, dirinya terus berkomitmen memenuhi alat, sumber belajar dan media pembelajaran yang dibutuhkan guru dan siswa. Ketersediaan itu penting sekali untuk mendukung pembelajaran kontekstual. Menurutnya pembelajaran kontekstual lebih tepat untuk mengembangkan kecerdasan multi dimensi siswa. Pada proses pembelajaran aktif ini pula kecakapan hidup siswa dikembangkan.

Guru Mata Pelajaran sebagai Manager Kelas Cara pandang sudah berubah. Semua guru berpacu meningkatkan capaian kriteria ketuntasan minimal (KKM), melaksanakan pembelajaran aktif, serta mengembangkan kecakapan hidup saat siswa belajar. Guru dan kasek sepakat memilih pendekatan pembelajaran kontekstual. Pembelajaran dikelola dengan berbasis pada kegiatan di laboratorium. 30 ruang belajar ditata menjadi kelas sumber belajar. Hasil karya siswa dari setiap pembelajaran diseleksi dan dipajang secara artistik. Karya siswa juga diportofoliokan dalam map plastik lalu ditata rapi di kelas. Tujuannya, agar karya itu terus dapat digunakan sebagai referensi dari materi yang berkaitan.

Setiap kelas berfungsi sebagai ruang pembelajaran mapel tertentu. Oleh karena itu siswa belajar secara berpindah (moving class). 21 rombongan belajar (7 rombel masing-masing kelas 7, 8, dan 9) berpindah tempat usai pergantian jam pelajaran (jam ke-3 dan ke-5). Ruang belajar tersebut diserahkan pengelolaannya ke setiap guru mapel. IPA 4 kelas; IPS 4 kelas, Matematika 4 kelas; Bahasa Indonesia 4 kelas; Bahasa Inggris 4 kelas; Agama 2 kelas; PKN 2 kelas; TIK 2 kelas; Seni Budaya 2 kelas; Penjaskes 1 kelas; dan Mulok 1 kelas. Setiap guru mapel menjadi manager kelas. Ia bertanggungjawab memelihara keasrian, karakter, dan kekayaan kelasnya sebagai laboratorium pembelajaran. Rancangan kelas seperti itu, guru merasakan efektivitas pembelajaran, siswa tidak jenuh berada di kelas, dan guru termotivasi untuk berkarya.

Tim Pengembang Sekolah
Tim ini terdiri atas kasek sebagai supervisor dan semua koordinator MGMP sekolah. Backup legalitasnya adalah SK Kasek. Tim ini dibentuk awal 2010 setelah semua gurunya selesai mengikuti pelatihan modul BTL2. Tanggung jawabnya meliputi:
(1) Merawat pelaksanaan pembelajaran aktif;
(2) Menganalisis ketercapaian tingkat KKM yang ditargetkan guru setiap mapel;
(3) Menganalisis alat dan sumber belajar dan media pembelajaran yang dibutuhkan guru dan siswa;
(4) Menginisiasi program dan
(5) Merumuskan Rencana Kerja Sekolah. Dampaknya, sekolah mampu membudayakan dan melestarikan pembelajaran aktif.

 Inovasi Pendidikan: Media Komunikasi SMP dan MTs

Edisi 09/Februari 2011