Inovasi Pendidikan
USAID Indonesia Inovasi Pendidikan DBE Indonesia
 HOME:HALAMAN UTAMA
  Berita DBE3 EDISI 9
 Berita Dari Lapangan
 Mengenai Kami
 100 Kunjungan Terakhir
  

  
 Login
  
Login:
Pass:
Register?
  

 Berita Dari Provinsi

Halaman 19 


Matematika dalam Buah Kakao

YULFIANA dan 13 teman lainnya mengaku sangat menikmati belajar Matematika yang baru saja diikuti. "Kami belajar Matematika tapi terasa bekerja di kebun untuk membantu orang tua," ujar siswa-siswa kelas IX SMP Negeri 5 Marioriwawo kabupaten Soppeng.

Pak Syafruddin, Guru Matematika SMPN 5 Marioriwawo, mendampingi siswa menjelaskan langkah-langkah yang harus mereka lakukan dalam memanfaatkan kakao sebagai media pembelajaran matematika.

Jika mereka menyukai model pembelajaran ini, karena orang tua mereka semua adalah petani kakao. Sekolah mereka pun berada di tengah rerim-bunan pohon kakao. Bahkan sehari-harinya untuk sampai ke sekolah yang cukup terisolasi itu, mereka harus jalan kaki naik turun gunung menembus belantara kakao. Sekolah ini tidak bisa dicapai dengan mobil, bahkan dengan sepeda motor pun terkadang kita harus turun dan mendorong motor, karena kondisi jalan yang berbatu. Jika motor slip dan terjatuh, anda bisa tergelincir ke tebing curam dan jatuh ke sungai di dasar jurang yang dalam. Tapi, hebatnya, di sekolah itu pembelajarannya kontekstual! Syafruddin, S.Pd, guru Matematika, sekaligus motor penggerak pembelajaran aktif ala DBE3, menyajikan KD 3.1: Menentukan mean (rata-rata), median dan modus data tunggal dan penafsirannya dengan menggunakan buah kakao. Dirinya memilih kakao sebagai sumber belajar untuk mengaitkan fungsi Matematika dengan kehidupan siswa, khususnya dalam menghitung produktivitas kebun kakao setiap saat.

Dirinya yakin kalau mengajarkan Mean, Median dan Modus, dengan hanya memberikan data kepada siswa tidak merangsang kreativitas siswa untuk mencari dan mengurut data, apalagi memaknai data. Akhirnya siswa pun tak mampu memungsikan pengetahuan Matematikanya dalam kehidupan kesehariannya. Waktu 2x40 menit ia kelola secara efektif dalam kerangka ICARE. Selama 60 menit kegiatan inti Syafruddin memfasilitasi siswa bekerja kelompok menemukan asal-muasal data, mengurut data, berdiskusi, presentasi hasil karya hingga mereka mampu menentukan Mean, Median, dan Modus.

Bahkan siswanya mampu memaknai data yang ditemukan. Langkah-langkah pengumpulan datanya meliputi:

(1) Membagi siswa ke dalam empat kelompok, yakni kelompok Mean, Median, Modus, dan Kuartil.

(2) Membagikan buah kakao ke setiap kelompok dalam jumlah yang berbeda. Kelompok Mean diberikan 13 buah, Median 12 buah, Modus 15 buah, dan Kuartil 14 buah.

(3) Siswa membelah setiap buah kakao lalu menghitung biji yang ada di dalamnya. Pada langkah ini ia mengingatkan siswanya bahwa jumlah biji dari setiap buah disebut Data Tunggal.

(4) Siswa menjumlahkan semua biji dari semua buah kakao yang dibelahnya. Di sini ia mengingatkan siswanya bahwa total biji yang didapatkan lalu dibagi dengan jumlah buah kakao yang dibelah maka itulah Mean.

(5) Siswa mengurutkan data tunggal dari yang terkecil hingga yang terbesar. Di sini ia menegaskan kepada siswanya bahwa angka (nilai) tengah disebut Median. Namun, ia kembali mengingatkan bahwa kalau jumlah data tunggal yang didapatkan ganjil maka Mediannya adalah angka (nilai) tengah. Sebaliknya jika jumlah data tunggal yang didapatkan genap maka dua angka di tengah dijumlahkan lalu hasilnya dibagi dua. Hasilnya itulah yang menjadi Median

(6) Siswa menentukan data tunggal (jumlah biji buah kakao) yang lebih banyak muncul atau yang mempunyai frekuensi terbesar. Ia lalu mengingatkan bahwa itu adalah Modus.

Setelah menyelesaikan sesi diskusi, kelompok menjawab LK, presentasi hasil karya, dan shopping idea, Syafruddin meminta siswa membuat simpulan sebagai bagian dari refleksi- tentang makna yang diperoleh dari data-data yang mereka temukan. Kelompok Median yang diwakili oleh Yulifiani menyampaikan, "Kami menemukan, ternyata di kampung kami dusun Maccope rata-rata biji buah kakao sebanyak 45 biji. Jumlah biji yang paling sedikit adalah 15 dan jumlah biji yang paling banyak adalah 59." Yulifiani kelihatan sangat senang belajar Matematika, "Saya suka Matematika! Belajar seperti ini rasanya seperti makan coklat lezat dari biji kakao kami," ujarnya.

Selain menemukan konsep mean, median, dan modus, dengan menggunakan media buah kakao, pembelajaran menjadi bermakna dan siswa menemukan jumlah produktivitas kebun kakao di daerahnya.


 Inovasi Pendidikan: Media Komunikasi SMP dan MTs

Edisi 09/Februari 2011