|
Berita Dari Provinsi
|
Halaman 8
|
Ubah Cara Berpikir Pengelola Pendidikan
Dampak DBE 3 versi Drs. Rustam Manalu, Kepala Dinas Pendidikan Kota Sibolga
SAYA melihat secara umum program DBE3 berhasil mengubah cara berpikir (mindset) pengelola pendidikan di kota Sibolga. Perubahan itu dimulai dari kepala dinas, kepala sekolah dan guru-guru. Perubahan ini sesuai dengan manajemen berbasis sekolah (MBS) dan pelaksanaan KTSP (Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan). Pemerintah daerah hanya memberikan rambu-rambu. Sehingga proses utama pembelajaran itu ada di sekolah. Kini guru tidak lagi menjadi satu-satunya sumber pengetahuan. Guru dituntut berkembang menjadi fasilitator.
Pendidikan tidak lagi berpusat pada guru, tetapi telah berpusat pada siswa. Hal ini membutuhkan perubahan cara berpikir. Terkhusus dalam mengintegrasikan kecakapan hidup (life skills) dalam proses belajar mengajar. Ini sesuai dengan UU Nomor 20 tahun 2003 tentang sistem pendidikan nasional dan Permendiknas Nomor 19 tahun 2005. Manusia sejak lahir sudah punya life skill yang menuntut kreativitas, karena dengan itu manusia bisa bertahan hidup. Kalau kita lihat, orang desa biasanya lebih kreatif karena tantangan geografisnya lebih sulit.
|
Diknas Kota Sibolga alokasikan dana sebesar Rp. 80.061.300,- untuk mereplikasi pelatihan BTL 2 di tahun 2010. Jumlah itu akan ditingkatkan untuk tahun 2011.
Drs. Jhonson Sihombing
Kepala Tenaga Pendidikan dan Pengajaran (Kadikjar) Diknas Kota Sibolga.
|
|
Drs. Jhonson Sihombing (kaca-mata), Kepala Pendidikan dan Pengajaran (Kadikjar) dan Drs. Rustam Manalu, Kepala Dinas Pendidikan Kota Sibolga.
|
Demi menghadapi perubahan ini, pengelola pendidikan harus berubah. KTSP berada di sekolah, maka sekolah yang harus mengembangkannya. Di mulai dari pengembangan metode pembelajaran sampai penyediaan perangkat pembelajaran. Guru di dorong menciptakan perangkat pembelajaran dari yang sederhana sampai yang lebih rumit. Sehingga sekarang guru kita lebih percaya diri. DBE3 telah berhasil di bidang itu. Sekolah-sekolah telah banyak berubah. Terutama dalam cara berpikir pengelola pendidikan, baik kepala sekolah dan para guru.
Kami akan melanjutkan keberhasilan ini dan mengimbaskannya. Ada dua alasan kami harus melakukannya. Pertama, kami melihat dan merasakan dampak yang bagus. Kedua, pemangku kepentingan (stockholders) yang ikut mengkonsep program ini baik DPRD, Bappeda dan sekolah punya komitmen kuat untuk mengembangkan program. Bagi Kota Sibolga yang geografisnya tidak luas, tidak ada jalan lain di bidang pendidikan selain peningkatan kualitas pendidikan.
Mau tidak mau prioritas pendidikan harus pada hal itu; peningkatan kualitas PBM. Demi memastikan berkelanjutan, kami akan mendorong sekolah yang mengembangkan model pembelajaran yang sudah dijalankan. Kami akan melakukan monitoring dan evaluasi untuk memastikan itu.
|
Menggambar Komentar
Topik mengungkapkan pikiran, perasaan dan informasi dalam bentuk komentar dan laporan rupanya tidak selamanya berbentuk kalimat. Di SMP Negeri 3 Sibolga, Kota Sibolga, Sumatera Utara topik ini bisa menghasilkan gambar karikatur.
|
Septiyan Pratama menunjukkan hasil karyanya.
|
SEPTIYAN PRATAMA, siswa kelas IX-D sumbringah menunjukkan gambar karikaturnya. Deretan mobil dengan teks mengelitik, membuat kaya Pratama menarik perhatian. Lewat karikatur ia mengungkapkan perasaannya."Saya mau semua orang punya kesempatan yang sama," ujar Pratama. Gagasan Pratama datang dari berita media massa. Ia diminta Ibu Riamin Tambunan, guru Bahasa Indonesia untuk mengindentifikasi dari laporan media massa. Pratama mencermati point penting dalam sebuah laporan. Setelah itu, Pratama bersama kelompok diminta membuat rencana penulisan laporan.
Penyusunan harus mengacu pada point yang mereka cermati dari laporan sebelumnya. Selama proses, siswa menemukan pokok-pokok laporan yang menarik. Setelah Pratama berhasil mengidentifikasi, kemudian dilanjutkan dengan membuat format penilaian. Format ini disusun secara partisipatif. Katagori laporan menarik disusun berdasarkan penemuan siswa. Kemudian Ibu Tambunan meminta Pratama bekerja perorangan.
Mereka diminta menggambarkan komentarnya atas laporan yang ada. Laporan dalam dibuat dalam bentuk gambar karikatur. Menurut Ibu Tambunan, jika anak diminta menuliskan dalam bentuk kalimat, maka akan kesulitan. "Makanya saya minta mereka menggambar."
|
|
Inovasi Pendidikan: Media Komunikasi SMP dan MTs
|
Edisi 8/November 2010
|
|