|
Berita Dari Provinsi
|
Halaman 7
|
MTs Negeri Lubuk Pakam Buka Klinik Matematika
SURYANI ROSA, siswi kelas VIII-2 mengeluh kurang mampu menghitung panjang garis singgung lingkaran. Ia diminta datang ke klinik dan mendapat dua terapi khusus dari Arfi Wahyuni, guru matematika. Ibu Arfi memberikan penjelasan mendalam soal teori garis singgung lingkaran. Setelah itu Ibu Arfi memberikan soal-soal untuk dijawab. Hasilnya, kemampuan Surayani meningkat 40 persen.
Tapi Ibu Arfi belum puas "Besok terapi kembali," tulis Ibu Arfi dalam Buku Terapi Matematika Siswa MTs N L.Pakam.
Suryani adalah salah satu pasien klinik Matematika MTs Negeri LB. Klinik itu cuma berukuran 12 meter persegi. Di dalam ruangan terpajang ragam rumus, alay peraga dan media pembelajaran matematika. Sebuah meja kayu bersama dua kursi plastik menjadi tempat guru dan siswa melakukan terapi matematika.
|
Ruang Klinik. Ibu Arfi Wahyuni, guru matematika MTsN Lubuk Pakam, Deli Serdang menyambut siswa yang akan diterapi di depan ruang klinik.
|
Klinik ini resmi beroperasi dua tahun lalu. Gagasan awalnya diajukan guru-guru matematika. Mereka ingin membantu siswa yang lemah matematika agar mampu menjawab soal-soal." Ini mirip proses remedial, tapi dimodifikasi," tutur Ibu Arfi. Menurut Ibu Arfi proses konsultasi di klinik tidak beda dengan konsultasi kesehatan dengan dokter. Langkah awal dari proses terapi dimulai dengan mengindentifikasi siswa yang lemah matematika. Biasanya guru menemukan siswa tersebut dalam proses belajar mengajar (PBM). Siswa yang terindentifikasi diminta untuk datang ke klinik di luar jam pelajaran. Menurut Ibu Arfi lebih lanjut, siswa sengaja tidak mendapat bimbingan khusus di kelas dalam waktu PBM.
Mereka pernah mencoba melakukan di dalam waktu PBM, tapi hasilnya tidak maksimal. Siswa merasa malu dan rendah diri karena menjadi pusat perhatian siswa yang lain. Setelah itu, proses terapi diubah."Kami berusaha menjaga privasi anak," ujar Ibu Arfi. Proses terapi dimulai dengan mendiagnosa kelemahan si anak. Demi mempermudah proses diagnosa, guru membuat alat bantu berupa buku catatan. Dalam buku itu tercatat tanggal, nama siswa dan kelasnya, guru yang memberikan terapi, keluhan, jenis terapi dan hasilnya.
Proses terapi membuat guru dan siswa lebih dekat. Siswa merasa nyaman untuk menyerap materi yang diajarkan guru. Guru juga lebih fokus dalam membantu si anak. Selain itu dalam proses pengerjaan soal, siswa lebih leluasa dan terbuka untuk bertanya. "Matematika itu sulit jika anak tidak menyukainya. Jadi tantangannya adalah bagaimana membuat anak menyukai matematika. Jika sudah suka, maka semua bisa jadi mudah," terang Ibu Arfi. Dalam mengukur hasil terapi, guru-guru matematika membuat standart.
Jumlah dan jenis soal yang diberikan kepada siswa berpariasi. Keberhasilan anak menjawab soal menjadi ukuran kemajuan terapi. Jika tidak memuaskan, maka proses terapi diperpanjang pada hari berikutnya. Misalnya bagi Suryani. Setelah diterapi dua hari berturut-turut, kemampuan Suryani menyelesaikan soal meningkat drastis." Alhamdullilah, sudah 70 persen paham," simpul Ibu Arfi dalam hasil terapi tanggal 5 Februari 2010.
|
Sering Presentasi, Menang Lomba Pidato
Angga Wiranda, Siswa Kelas IX-3 SMP Negeri 1 Tanjung Morawa, Deli Serdang, Sumatera
SAYA bisa mememenangi lomba Pidato Bahasa Indonesia Tingkat Provinsi Sumut tahun 2010, karena terbiasa berbicara di depan kelas. Di sekolah, cara belajar kami agak berbeda. Kami belajar berkelompok dan banyak berdiskusi. Hasil diskusi selalu dipresentasikan di depan kelas. Berbicara di depan kelas itu tidak mudah. Saya harus mampu menjelaskan hasil diskusi dengan baik. Cara menyampaikan juga harus jelas dan percaya diri.
Guru kami sering mengajak kami berkompetesi dan melemparkan pertanyaan, kemudian kami berlomba mengangkat tangan. Jawaban yang benar akan menambah nilai. Kami senang dengan itu. Dulu kami duduk berbaris. Kami lebih banyak mendengar guru. Kami jarang berdiskusi. Kami jarang pula mempresentasikan hasil belajar kami. Sekarang kami sudah sering berbicara di depan kelas.
Saya sering mewakili kelompok untuk menyampaikan pikiran kami. Karena sering berbicara di depan kelas, saya jadi lebih percaya diri. Ketika ikut lomba pidato, saya tidak merasa takut sama sekali. Saya suka cara belajar yang sekarang.
|
|
Inovasi Pendidikan: Media Komunikasi SMP dan MTs
|
Edisi 8/November 2010
|
|