Seleksi Wali Kelas untuk Melestarikan Pembelajaran Aktif
KEPALA MTsN Binamu, Drs. Irfan melakukan beberapa langkah strategis untuk merawat belajar aktif di madrasahnya. Saat ini segenap guru ex-peserta pelatihan paket BTL2 berperan sebagai penggerak perubahan. Praktik pembelajaran kooperatif merata di semua kelas. Bahkan ditiru guru non lima mapel target. Siswa belajar lebih interaktif antar kelompok. Siswa sudah mulai terbiasa presentasi dan mendiskusikan hasil karyanya. Pajangan karya siswa di kelola sebagai sumber belajar baru dan jadi rujukan penilaian portofolio siswa.
Untuk menguatkan dan melestarikan capaian tersebut, dirinya mengoptimalkan peran wali kelas sebagai manager pengendali model pembelajaran. Pemilihan wali kelas didasarkan pada assessment kecakapan mengelola pembelajaran aktif .
|
Suasana pembelajaran di MTsN Binamu.
|
"Saya sangat yakin dengan rasa nyaman yang diciptakan saat pembelajaran akan membuat siswa rajin belajar, disiplin tata tertib siswa, serta rajin ke sekolah," tukas pak Irfan.
Jika pengelolaan kelas tidak mendukung pembelajaran inovatif serta rasa nyaman belajar bagi siswa tidak terwujud di kelas, maka kondisi ini menjadi dasar mereview performa wali kelas. Review kinerja wali kelas di laksanakan per tri wulan. Hasil review itu menjadi rujukan kuat akan perlunya penggantian wali kelas. Sebagai apresiasi dan reward atas kinerjanya, madrasah memberikan insentif bulanan kepada wali kelas.
Supervisi Kelas Bersahabat di SMPN 5 Garut
UNTUK meningkatkan kualitas proses belajar mengajar melalui supervisi, Drs. H. Yana Darmana, M.Pd kepala SMPN 5 Garut, melakukan supervisi kelas yang bersahabat. Upaya pokoknya adalah memahami dan memecahkan masalah belajar-mengajar dan membantu guru memecahkan masalah itu. Dengan cara ini, supervisI kelas di SMPN 5 Garut menjadi lebih "bersahabat" dan tidak lagi menakutkan bagi guru. Justru supervisi menjadi hal yang dinanti-nanti oleh para guru.
|
Langkah-langkah konkret yang ditempuhnya adalah sbb.:
Membuat kesepakatan kapan akan dilakukan supervisi kelas dengan guru yang bersangkutan;
Mendiskusikan materi pelajaran apa yang akan diajarkan pada saat supervisi kelas;
Membantu membuat persiapan mengajar dengan memberikan masukan-masukan;
Meyakinkan guru bahwa kedatangan kasek sebagai supervisor bukan akan menilai atau mengawasi namun untuk memberikan bantuan teknis.
Membuat kesepakatan untuk mem-bagi peran antara supervisor dengan guru.
|
|
Untuk lebih memantapkan program supervisi, dirinya melakukan hal-hal berikut:
Datang lebih pagi sebelum guru masuk kelas untuk melakukan "kontrak" ulang tentang: langkah-langkah pembelajaran, peran masing-masing, dan organisasi waktu.
Masuk ke dalam kelas bersama-sama dengan guru yang bersangkutan, agar tidak menganggu konsentrasi dan tidak menimbulkan rasa takut.
Meminta guru yang bersangkutan untuk menyampaikan kepada siswa bahwa kepala sekolah datang di kelas akan membantu proses pembelajaran sehingga tidak menimbulkan rasa penasaran bagi siswa.
Kepala sekolah ikut berperan dalam proses pembelajaran tersebut, dan tidak lupa membuat catatan-catatan kecil tentang kelebihan maupun hal-hal yang terjadi selama proses pembelajaran yang memerlukan perbaikan.
Kepala tidak sekali-kali mengambil alih peran guru.
|
|
Setelah supervisi kelas, pak Darmana biasa melakukan:
Diskusi dengan guru atas dasar sikap saling menghargai;
Refleksi diri misalnya melalui pertanyaan, " Bagaimana perasaan Bapak/Ibu selama proses pembelajaran tadi? Apakah masih ada kekurangan yang Bapak/Ibu lakukan selama proses pembelajaran tadi, di bagian mana saja? ";
Menanyakan peningkatan aspek apa yang ingin dilakukan oleh guru.
Memberikan saran atau arahan;
Merencanakan tindak lanjut, misalnya: " Apa yang perlu Bapak/Ibu lakukan selanjutnya agar pembelajaran yang akan dilakukan besok lebih baik? "
Kini supervisi kelas lebih diterima oleh guru dan siswa sebagai hal yang justru dinanti-nantikan. Guru merasakan supervisi kelas sebagai sebuah kebutuhan bagi pengembangan profesionalismenya. Bahkan, saat COP DBE3 Stuart Weston dan rombongan berkunjung ke kelas-kelas di SMPN 5 Garut, guru dan siswa tampak nyaman mengikuti proses pembelajaran.
|
|
Siswa tidak canggung dengan kehadiran Stuart Weston COP DBE3 yang mengunjungi kelasnya.
|
|
Inovasi Pendidikan: Media
Komunikasi SMP dan MTs
|
Edisi 08/November 2010
|
|