Inovasi Pendidikan
USAID Indonesia Inovasi Pendidikan DBE Indonesia
 HOME:HALAMAN UTAMA
  Berita DBE3 EDISI 8
 Berita Dari Lapangan
 Mengenai Kami
 100 Kunjungan Terakhir
  

  
 Login
  
Login:
Pass:
Register?
  

 Berita dari Provinsi

Halaman 18 


Menonton Film Bisu untuk Membuat Naskah Drama

FOTO kegiatan dan situasi di sekolah dirangkai Drs. Nasir, M.Pd guru Bahasa Indonesia SMPN 20 Makasar menjadi gambar bergerak lewat program MovieMaker. "Saya menyebutnya film bisu, karena di dalamnya tanpa kata atau clue (petunjuk) yang mengarahkan sekuens peristiwa yang diceritakan foto. Musik instrumentalia Kenny G menjadi back vocal film agar dapat menggugah suasana hati dan pikiran siswa untuk berimajinasi," cerita pak Nasir. Film bisu berdurasi tujuh menit itu dijadikan sumber belajar untuk mengantar siswa mampu berkreasi menyusun kerangka cerita naskah drama, menentukan tokoh dan karakternya, serta menyusun naskah drama sebabak.

Tujuan ini merujuk pada pencapaian KD menulis kreatif naskah drama satu babak dengan memperhatikan kaidah penulisan naskah drama. Selama 60 menit kegiatan inti, siswa difasilitasi untk berpikir tingkat tinggi, memecahkan masalah, mengembangkan kecakapan kerjasama, serta berkarya. "Karena itu, saya memberikan LK yang mendorong siswa berpikir kritis, menuntun bekerja kelompok untuk menyusun ide dan alur cerita, menentukan tokoh dan karakternya, serta menyusun naskah drama satu babak," kata pak Nasir.

Dalam pembelajaran itu siswa dibagi menjadi delapan kelompok. Setiap kelompok bekerja dengan satu unit komputer. Naskah drama yang disusun langsung diketik dan dikoreksi bersama dengan anggota kelompok masing-masing. Untuk menguatkan pemahaman siswa tentang Ide dan Alur cerita, Tokoh dan Pengkarakterannya, serta Naskah Drama Satu Babak yang baik, maka setiap kelompok bertanggung jawab mengkritisi satu naskah dari kelompok lain. Di monitor mereka langsung menuliskan koreksi atas karya yang dieditnya.

Untuk penjiwaan naskah drama, disesi akhir kerja kelompok, mereka melakonkan karakter tokoh ciptaannya lewat pentas di depan kelas. Dengan sumber belajar film bisu itu, siswa mampu belajar aktif dan berkreasi sesuai imajinasi masing-masing. Naskah-naskah yang dikreasi memiliki ide yang kuat untuk dikembangkan, misalnya Indahnya Persahabatan di Sekolah karya salah satu kelompok.

Di pembelajaran ini, ada beberapa hal positif yaitu, kemampuan siswa menyatukan persepsi atas ide cerita, alur, latar, tokoh dan karakternya; kemampuan mereka mengoreksi karya kelompok lain; kemampuan menjiwai karyanya saat mementaskan karakter tokoh imajinatifnya di depan kelas. Mengapresiasi karya siswa, guru menyampaikan kekuatan tiap-tiap karya yang meliputi alur cerita yang runtut, naskah yang sesuai kaidah serta tokoh dan perwatakannya.

Siswa berdiskusi dalam kelompok menyiapkan lakon karakter tokoh ciptaannya untuk dipentaskan di depan kelas.

Siswa juga memanfaatkan komputer dalam pembelajaran Bahasa Indonesia dan sudut sekolah dimanfaatkan siswa untuk mendiskusikan tugas yang diberikan guru.

Pengelolaan waktu 80 menit pembelajaran kooperatif ini meliputi 10 menit apersepsi, kegiatan inti 60 menit, dan 10 menit untuk kegiatan refleksi dan penguatan. Detail langkah pembelajarannya sebagai berikut:

  1. Siswa bekerja dalam 8 kelompok.
  2. Setiap kelompok mengoperasikan satu unit komputer.
  3. Siswa menonton secara cermat tayangan film.
  4. Masing-masing kelompok menentukan ide ceritanya masing-masing.
  5. Secara berkelompok siswa berdiskusi berdasarkan ide cerita yang telah dipilih.
  6. Siswa menulis dialog naskah drama berdasarkan ide cerita yang dipilih pada komputer masing-masing.
  7. Setiap kelompok saling mengunjungi dan menyunting hasil kerja kelompok lain.
  8. Secara klasikal guru mengajukan pertanyaan " Agar naskah drama menarik, hal-hal apa saja yang perlu diperhatikan.
  9. Setiap kelompok melaporkan hasil karya kelompoknya dan kelompok lain menanggapinya.

 Inovasi Pendidikan: Media Komunikasi SMP dan MTs

Edisi 8/November 2010