|
Berita Dari Provinsi
|
Halaman 17
|
Utamakan Pembelajaran Kontekstual untuk Ketuntasan Belajar Siswa
"Kami memandang hasil UN yang baik itu penting. Tapi, yang tak kalah pentingnya adalah peningkatan ketuntasan belajar siswa atau Kriteria Ketuntasan Minimum (KKM) untuk semua mata pelajaran," tukas Drs. Muslimin, M.Pd Kepala SMPN 1 Tellulimpoe, Sidrap. Menurutnya, KKM itulah yang dijadikan tolok ukur keberhasilan pembelajaran bagi siswa. Bagi guru, Peningkatan angka KKM juga menjadi rujukan penilaian atas perkembangan potensi siswa yang meliputi aspek kognitif, afektif, dan psikomotor.
Selaku kepala sekolah, dirinya selalu memotivasi semua guru untuk menetapkan target peningkatan angka KKM per semester. "Kami sangat yakin jika grafik angka KKM bergerak naik, maka siswa mengalami kemajuan belajar. Penguasaan materi pelajaran semakin baik dan akan membantu mereka menyelesaikan soal UAN dengan baik," katanya mantap. Target capaian angka KKM itu sendiri ditetapkan oleh setiap guru. Namun, mereka sangat berhati-hati menetapkannya karena jangan sampai angka tersebut membebani siswa.
|
Siswa SMPN 1Tellulimpoe, Sidrap sedang praktik IPA mengukur besar gaya menggunakan neraca pegas. Para gurunya terbiasa berkegiatan dalam MGMP sekolah.
|
Untuk itu di awal sekolah melakukan analisis bersama mengenai kemampuan siswa termasuk nilai ujian di sekolah dasar, kompeleksitas materi pelajaran, dan daya dukung sumberdaya pembelajaran yang disediakan.
Meningkatnya capaian target KKM beririsan langsung dengan kualitas proses pembelajaran. Karenanya, jika target peningkatan KKM tidak tercapai, mereka mengevaluasi proses belajar mengajar, dukungan dan ketersediaan sumber daya pembelajaran kontekstual, dan supervisi kelas.
Target supervisi di tekankan pada penguasaan materi oleh guru dan kemampuan transfer pengetahuannya. Di sinilah kepala sekolah berperan memotivasi dan memfasilitasi guru melakukan inovasi metode pembelajarannya. "Kami memberikan advis kepada segenap guru agar mengutamakan metodologi pembelajaran kontekstual. Kegiatan pengembangan metode pembelajaran ini selanjutnya diintesifkan di MGMP sekolah," papar pak Muslimin.
Beruntung semua guru sudah punya bekal dari replikasi pelatihan BTL2 dan BTL3. "Kami intensifkan kegiatan yang mendukung peningkatan kualitas profesionalisme guru, supervisi perangkat pembelajaran, memenuhi kebutuhan pembelajaran kontekstual, mengelola karya siswa dengan baik, dan memfasilitasi pengembangan potensi siswa lewat kegiatan ekstrakurikuler," katanya lagi.
Memahami Cara Kerja Alat Optik Periskop
NUR HISYAM, S.Pd guru IPA SMP YP PGRI Makasar memfasilitasi pembelajaran IPA yang membuat siswa aktif dan belajar menjadi bermakna.
KD yang akan dicapai adalah mendeskripsikan alat-alat optik dan penerapannya dalam kehidupan sehari-hari. Salah satu indikatornya yaitu menjelaskan cara kerja beberapa produk teknologi yang relevan, seperti mikroskop, berbagai jenis teropong, dan periskop. Hasil belajar yang diharapkan sehubungan dengan periskop adalah siswa dapat merancang, membuat, serta menjelaskan cara kerja (prinsip kerja) periskop sederhana tersebut.
|
Secara berkelompok siswa membuat alat periskop sederhana.
|
Pada pembelajaran ini, guru mengajak siswa merancang dan membuat alat periskop sederhana. Langkah kegiatan pembelajaran yang utama adalah apersepsi, kerja kelompok, pajangan dan presentasi hasil karya, penguatan hasil karya, dan terakhir siswa merefleksi hasil dan proses pembelajaran. Selama pembelajaran berlangsung, guru memantau jalannya aktifitas kerjasama kelompok membuat Periskop. Setelah menyelesaikan hasil karyanya, siswa mempraktikkan penggunaannya.
Setiap kelompok kemudian mempresentasikan periskop hasil karyanya. Menerangkan langkah-langkah, material yang dipergunakan, serta cara kerja dan fungsi alat optik periskop digunakan.
"Saya mengajak siswa bagaimana cara merancang, membuat alat periskop sederhana. Setelah selesai siswa mencoba menggunakan alat tersebut, sehingga mereka pun tahu prinsip kerja dari periskop tersebut. Siswapun terlihat semangat untuk membuatnya dan merasa terkesan," tukas bu Nur.
|
Inovasi Pendidikan: Media Komunikasi SMP dan MTs
|
Edisi 8/November 2010
|
|