|
Berita Dari Provinsi
|
Halaman 13
|
Siapapun yang Memimpin SMPN 2 Musuk,
Budaya Pembelajaran Bermakna di Kelas Takkan Luntur
|
Pembelajaran aktif yang bermakna di SMPN 2 Musuk sudah membudaya. Siswa difasilitasi dalam belajar secara kooperatif, memanfaatkan beragam media termasuk lingkungan, siswa mempresentasikan hasil belajarnya, dan terdapat papan pajangan karya siswa di semua kelas.
|
Dra. Sri Supanti Nurhayati,M.Pd Kepala SMP 2 Musuk Kabupaten Boyolali mengungkapkan bahwa sejak awal bergabung dengan DBE3 pada tahun 2009 telah banyak perubahan yang terjadi di sekolahnya. Saat ini MGMP sekolah sudah aktif dilaksanakan, pemanfaatan lingkungan sebagai sumber belajar, papan pajangan dan almari penyimpanan karya siswa, pajangan siswa menghiasi semua kelas, dan pembelajaran bermakna sudah menjadi budaya.
Bagaimana agar perubahan yang terjadi tetap langgeng? Dirinya mengambil langkah strategis agar perubahan pembelajaran yang terjadi berkkelanjutan, yaitu dengan memberikan dukungan lewat penganggaran di RKAS (Rencana Kegiatan Anggaran Sekolah).
Menurut bu Nur, anggaran sekolah tersebut diprioritaskan untuk mendukung kegiatan siswa. Pertama, untuk mendukung kegiatan pembelajaran di luar kelas, kegiatan ekstra kurikuler, mengirim siswa mengikuti lomba, dan pembentukan mathematics fans club. Kedua, mendukung kegiatan guru, antara lain; memfasilitasi MGMP sekolah, kelompok kerja dan MGMP kabupaten, mengadakan replikasi BTL, dan mengadakan workshop. Ketiga, untuk pemenuhan sarana dan prasarana pembelajaran aktif seperti menyediakan papan pajangan, menyediakan almari penyimpan hasil karya siswa dan ATK.
Dukungan dana dari sekolah ternyata tidak sia-sia, hasilnya bisa dilihat dari peningkatan hasil ujian nasional dari rata-rata 24,15 meningkat menjadi 28,21. Bahkan ada siswa yang berhasil meraih nilai matematika 10.
"Siapapun yang memimpin SMP 2 Musuk perubahan dalam pembelajaran yang telah terjadi tidak akan luntur karena telah masuk dalam penganggaran dalam RKAS," kata kepala sekolah yang mengajar Matematika itu. Semangat melakukan perubahan juga dipicu semboyan sekolah yaitu Keteladanan lebih berarti daripada nasehat.
MTs NU Al Hidayah Songsong Perubahan sebagai Budaya
MTs NU Al Hidayah adalah madrasah mitra DBE3 di Kabupaten Kudus sejak tahun 2006. Letaknya di Desa Getas Srabi sekitar 10 KM dari Kota Kudus. Implementasi nyata pembelajaran bermakna sudah tampak di setiap sudut kelas. Mulai dari setting tempat duduk sampai dengan papan pajangan yang semarak dengan hasil karya siswa. MTs ini melengkapi sarana pembelajaran lab Agama, selain lab Bahasa, lab IPA dan lab Komputer.
Noor Azis,S.Ag-Kepala MTs NU Al Hidayah menyadari perubahan dalam pembelajaran yang telah dicapai tidak akan langgeng apabila tidak ada upaya untuk membudayakannya.
|
Media pembelajaran yang dibuat guru didukung pembiayaanya oleh madrasah. Para siswa memanfaatkan hasil karya yang dipajangkan sebagai sumber belajar.
|
Program-program yang telah dianggarkan untuk mendukung keberhasilan pembelajaran antara lain pelatihan dan pembuatan media, penyediaan papan pajang di tiap kelas, penyediaan ATK untuk pembelajaran, fasilitas jaringan internet, penambahan buku untuk perpustakaan, fasilitas kepada guru untuk mengikuti kegiatan MGMP ditingkat kabupaten, kelompok kerja MTs, dan LP Ma'arif, pembiayaan untuk ekstrakurikuler, replikasi pelatihan BTL dan ICT, dan lainnya. Dampaknya terhadap pembelajaran aktif adalah peningkatan kepercayaan dari masyarakat. Setiap tahun rata-rata peningkatan jumlah siswa sekitar 30 orang..
|
Inovasi Pendidikan: Media Komunikasi SMP dan MTs
|
Edisi 8/November 2010
|
|