|
Hasil UN dari Peringkat 39 ke Peringkat 8
SMPN 31 Surabaya berada di pinggir Kota Surabaya arah menuju Jembatan Suramadu. Hasil ujian nasional (UN) lalu, sekolah ini berhasil menempatkan dirinya pada peringkat delapan untuk tingkat SMP/MTs Kota Surabaya. Prestasi ini bukanlah hasil kerja semalam, melainkan hasil kerja keras tak kenal lelah dari seluruh komponen sekolah.
Menurut Kepala Sekolah SMPN 31, Anwaruddin, sejak sekolahnya bermitra dengan DBE3, telah banyak perubahan. Guru yang dulunya terbiasa dengan model ceramah kini telah berubah kepada student centered.
Bahkan tak jarang mereka memanfaatkan lingkungan luar kelas dan masyarakat sekitar sebagai sumber belajar.
Selain itu, guru-guru yang telah mengikuti pelatihan DBE3 diwajibkan untuk membagi pengetahuan pada kawan sejawatnya melalui forum MGMPS yang diadakan rutin seminggu sekali. Tak heran dengan perubahan tersebut membawa dampak bagi kemajuan sekolah. Murid-murid yang dulunya pasif kini sudah tak segan-segan lagi untuk mengungkapkan pendapatnya. Semangat mereka untuk belajar meningkat drastis, tukas pak Anwarudin.
Kepemimpinan Partisipatif
Prestasi SMPN 31 Surabaya tak lepas dari kepemimpinan kepala sekolah, Drs. Anwaruddin, M.Si, M.Pd. Di lingkungan sekolah, pak Anwaruddin dikenal bersahaja, kalem, mudah bergaul dan enak diajak bicara. Kepala sekolah ini sangat menghargai teman bicaranya, meskipun kepada bawahan.
Kepemimpinan kepala sekolah ini disamping menerapkan pola formal juga menerapkan pola informal. Pola formal dipakai seperti pada rapat-rapat dinas. Pak Anwaruddin sering mengumpulkan guru-guru dalam suasana informal. Dalam suasana seperti itu terasa rasa kekeluargaan terbangun, tidak canggung sehingga para guru bebas mengutarakan uneg-unegnya. Banyak ide-ide menarik untuk kemajuan sekolah datang dari forum seperti ini.
|
Suasana pembelajaran sehari-hari di SMPN 31 Kota Surabaya. Inzet: Pak Anwaruddin.
|
Dalam hal pembelajaran di kelas, guru diberi kebebasan untuk berkreasi sekreatif mungkin. M. Yunus, S.Pd, MM, guru IPA di SMPN 31 mengungkapkan kebanggaannya bisa dipimpin oleh Anwaruddin, karena kepemimpinan yang diterapkannya sangat mendukung guru untuk maju. Dampaknya, SMPN 31 Surabaya berhasil melompat dengan meraih peringkat 8 hasil UN 2010. Selamat untuk SMPN 31 Surabaya.
|
Mengobati Penyakit Guru
LAYAKNYA seorang dokter, ia mendiagnosis penyakit guru. Di awal presentasinya, Drs. H.Rusdi, M.Si, Kasek SMPN 3 Watansoppeng menguraikan 12 penyakit guru. Di antaranya yang sudah kronis: ASMA (asal masuk kelas), KUSTA (kurang strategi), TIPUS (tidak punya selera), Asam Urat (asal sajikan materi dan tak berurutan), serta TBC (tidak bisa computer). Menurutnya, isi dari paket Pelatihan Pengajaran Profesional dan Pembelajaran Bermakna 2 dan 3 DBE 3 terbukti menjadi penawar atas penyakit temuannya itu.
Dirinya memastikan bahwa hasil pelatihan pembelajaran aktif berfungsi sebagai terapi mengatasi penyakit guru. Kalau guru tidak punya perencanaan pembelajaran yang baik, ia menderita asma. Jika tak mampu merancang lembar kerja (LK) yang membuat siswa berpikir kritis atau miskin ide pembelajaran, pasti kena kusta. Ternyata peran fasilitator memberikan asistensi lewat pendampingan sangat efektif. Para guru terbantu menerapkan hasil pelatihan di kelas, ungkap pak Rusdi.
Bagi yang telah merubah mindsetnya, menurut pak Rusdi, mengajar tidak sekadar menggugurkan kewajiban, melainkan kewajiban mencerdaskan, maka ia pasti sembuh dari tipus.
Ketidakmampuan melakukan pemetaan kompetensi dasar, mengurutkannya berdasarkan kelompok struktur di bawah standar kompetensi, berarti ia terserang asam urat. Ini perlu terapi berkelanjutan oleh fasilitator lewat pengaktifan MGMP.
|
Guru kreatif membuat siswa optimal berkarya dan berprestasi.
|
Pak Rusdi optimis kalau TBC di sekolahnya dapat dihapus dengan penerapan TIK dalam pembelajaran. Di sekolah kami telah terjadi peningkatan performa pembelajaran. Khususnya berkaitan 7 aspek yang dikuatkan fasilitator. Kemajuan ini masih membutuhkan perawatan agar tetap berlanjut. Terutama untuk meningkatkan daya serap pembelajaran dan kecakapan hidup siswa, tuturnya.
|
Inovasi Pendidikan: Media
Komunikasi SMP dan MTs
|
Edisi 07/Agustus 2010
|
|