|
Berita dari Provinsi
|
Halaman 18
|
Merancang Taman Bermain untuk Menemukan
Keliling dan Luas Segi Empat
|
MELALUI kegiatan merancang taman bermain dalam pembelajaran matematika, ternyata siswa dapat mencapai kompetensi dasar menghitung keliling dan luas bangun segi empat serta menggunakannya dalam pemecahan masalah. Hal itu telah dibuktikan Hurriyah, S.Pd guru Matematika SMPN YP-PGRI Makassar.
Untuk mencapai kompetensi ini, pertama siswa secara berkelompok diberi tugas untuk merancang sebuah taman bermain dengan beberapa fasilitas yang bentuknya merupakan bangun bangun segiempat yang telah ditentukan ukurannya.
Siswa bebas menuangkan gagasan-gagasan mereka untuk menata bangun-bangun tersebut menjadi sebuah taman bermain yang menyenangkan. Setelah itu siswa diminta untuk membuat rencana biaya yang dibutuhkan untuk membuat taman tersebut menjadi lebih sejuk dengan menghitung banyak pohon, tanaman bunga dan rumput yang diperlukan untuk taman tersebut.
Pada lembar kerja digambarkan bahwa taman yang dirancang tersebut akan ditanami pohon pada sekeliling taman, tanaman bunga pada sekeliling beberapa fasilitas dan diluar semua fasilitas akan ditanami rumput. Disinilah konsep menghitung keliling dan luas bangun segiempat itu digunakan.
|
|
Lembar kerja yang dibuat guru mendorong siswa berpikir kritis.
|
|
Lembar Kerja Siswa (LKS) yang dibuat untuk merangsang siswa berpikir tingkat tinggi menjadi kekuatan pembelajaran ini. Siswa mampu menyelesaikan masalah-masalah yang berkaitan dengan keliling dan luas segi empat.
Dengan pembelajaran ini siswa memperoleh pengalaman bahwa apa yang mereka pelajari bukan sekedar menghapal rumus dan hanya menghitung keliling dan luas bangun persegi, persegipanjang, jajargenjang, belah ketupat, layang-layang dan trapesium, tapi mereka dapat menerapkan dalam kehidupan nyata.
|
Media sebagai clue siswa bekerja.
|
|
|
Siswa bekerja kelompok yang difasilitasi guru
|
|
|
Saat Siswa Menilai Guru
Risma Reskananga, siswa Kelas VIII SMPN 1 Tellulimpoe Sidrap mampu memukau undangan dan pengunjung showcase lewat paparan kesaksian pembelajaran yang dialami. Mengisahkan pembelajaran di sekolahnya, dirinya membandingkan masa sebelum dan sekarang tentang model mengajar guru-gurunya. Sangat percaya diri ia menganalisa lalu menilai metode pembelajaran yang terapkan gurunya. Berikut ini seperti yang dipresentasikan.
Sebelum guru kami menerapkan cara pembelajaran aktif:
- Kami jarang diberi kesempatan untuk menyampaikan pendapat
- Guru lebih banyak bercerita atau memaparkan materi
- Diarahkan belajar atau mengerjakan tugas secara individu
- Tidak penting kami membuat hasil karya
- Guru tidak pernah memberi penghargaan atas hasil karya kami
Sesudah kami mengikuti pembelajaran aktif:
- Kami bebas aktif berpendapat, berdiskusi, dan menemukan informasi sendiri
- Belajar dengan cara berkelompok.
- Berlomba menghasilkan karya yang terbaik
- Kaya dengan beragam kegiatan belajar
- Kami diberitahu keunggulan dan kelemahan karya kami
- Guru aktif mendampingi kami sampai akhir
- Kami senang, makin percaya diri, dan makin cinta belajar
|
|
Inovasi Pendidikan: Media Komunikasi SMP dan MTs
|
Edisi 07/Agustus 2010
|
|