|
Berita Dari Provinsi
|
Halaman 12
|
Asyik Mengamati Perubahan Energi dengan Othok-Othok
|
Dalam kelompok siswa mengamati perubahan energi. yang terjadi pada Othok-othok
|
KETIKA masih kecil, mungkin kita familiar dengan othok-othok. Mainan terbuat dari bambu dengan tongkat yang didorong dan menghasilkan bunyi thok-othok-othok-othok. Bernostalgia kembali kemasa kecil, Mujiati,S.Pd guru IPA MTs NU Hasyim Asyari menggunakan mainan itu sebagai media untuk memahami bentuk dan perubahan energi.
Bu Mujiati, begitu para siswa memanggil beliau, mengawali pelajaran dengan menunjukan sebuah mobil-mobilan dan menjalankanya, apa yang terjadi dengan mobil? Tanya guru kepada siswa untuk menggali pemahaman mereka tentang perubahan energi pada mobil-mobilan.
Dengan aktif siswa mengemukakan pendapatnya, meskipun ada beberapa yang melenceng dari yang diharapkan. Untuk lebih memahami konsep perubahan energy, Bu Mujiati mengajak siswa untuk membuat othok-othok dan melakukan pengamatan perubahan energy yang terjadi. Setelah membagi kelompok dan lembar kerja, guru menunjukan bahan dan alat yang sudah dipersiapkan siswa dari rumah, yaitu, bambu, kaleng bekas, karton bekas, karet gelang, bendrat, sandal jepit bekas dan potongan seng, martil, gunting, pisau dan spidol. Semua bahan yang digunakan adalah barang bekas yang mudah didapatkan.
Dengan panduan lembar kerja, siswa merangkai alat dan bahan yang tersedia menjadi sebuah othok-othok, kemudian melakukan pengamatan perubahan energi yang terjadi ketika mainan ini digerakkan. Selama diskusi berlangsung, guru berkeliling membantu siswa menyelesaikan tugas. Dari hasil presentasi kelompok dibantu guru mereka menyimpulkan bahwa perubahan energi yang terjadi antara lain energi gerak menjadi energi bunyi. Diakhir pelajaran Bu Mujiati memberikan penguatan tentang perubahan energi. Para siswa terlihat puas dengan hasil karyanya, Wah ternyata mainan bisa juga dijadikan media belajar yang asyik, ujar salah satu siswa.
Jurnal Refleksi = Modal Guru Profesional
AWALNYA saya berpikir bahwa yang paling penting dalam mengajar adalah persiapan mengajar, lebih-lebih saya mengajar kelas secara pararel sehingga hal yang sama bisa diterapkan di semua kelas. Ternyata apa yang terjadi dalam pembelajaran tidak selalu sesuai dengan skenario yang telah direncanakan, dan tentu saja guru tidak ingin hal yang sama terjadi di kelas lain. Itulah awal saya menyadari betapa pentingnya menulis jurnal refleksi di setiap akhir pelajaran.
Menulis refleksi membuat guru bisa mendokumentasikan dan bercerita tentang proses pembelajaran, mengungkapkan perasaan dan pikiran tentang pembelajaran, melakukan evaluasi kekurangan dan kelebihan, dan akhirnya bisa memperbaiki perencanaan pembelajaran berikutnya. Seperti pengalaman ketika pembelajaran bahasa Indonesia dengan KD Menemukan tema, latar, penokohan pada cerpen-cerpen dalam satu kumpulan cerpen ternyata pada saat diterapkan di kelas pertama ternyata ada beberapa kendala yang tidak sesuai dengan rencana seperti manajemen waktu yang tidak terpenuhi.
Berkaca pada pengalaman pertama itu guru dapat meminimalisir hambatan di kelas berikutnya. Bisa dikatakan bahwa jurnal refleksi menyempurnakan kualitas pembelajaran di kelas.
Tidak hanya refleksi guru, refleksi siswa tentang apa yang telah mereka pelajari dan rasakan ketika belajar juga menjadi salah satu amunisi bagi guru dalam merancang pembelajaran selanjutnya yang lebih baik. Hanya yang perlu diperhatikan adalah bagaimana guru dapat mendorong siswa untuk menulis dengan jujur bukan semata-mata yang penting guru senang.
Demam penulisan PTK sedang melanda di kalangan teman-teman guru,. Kadang kita kesulitan untuk menentukan tema yang akan diangkat. Jurnal refleksi dapat dijadikan embrio bahan pembuatan PTK. Caranya dengan membaca dan mencermati jurnal refleksi, terutama untuk menemukan masalah yang terjadi dalam pembelajaran.
Jurnal refleksi juga memberikan berkah bagi saya. Berkat merefleksi pembelajaran dan menuliskannya dalam jurnal, saya berhasil menjadi juara 2 Lomba Kreativitas Guru tingkat Kabupaten Boyolali melalui mendongeng dengan wayang dalam pembelajaran Bahasa Indonesia.
Dra. Eda Sukawati,
Guru Bahasa Indonesia
SMPN 2 Musuk
|
Inovasi Pendidikan: Media Komunikasi SMP dan MTs
|
Edisi 07/Agustus 2010
|
|