|
Berita Dari Provinsi
|
Halaman 8
|
|
Replikasi untuk Kualitas
Lewat dukungan dana sekolah dan alumni, SMP Negeri 2 Binjai melakukan pelatihan replikasi modul BTL2 yang diikuti 57 guru.
“Perubahan cara belajar di kelas semakin menyenangkan karena proses belajar DBE3. Kita dapat sharing, yaitu dapat bertukar pikiran dengan teman yang lain. Kita juga semakin akrab dengan teman-teman,” tulis Isaini Intan Putri, pelajar SMPN 2 Binjai, finalis kompetisi matematika PASIAD se-Indonesia.
Putri punya pengalaman menarik tentang pembelajaran berkelompok. Penggemar matematika ini mengaku dulu kesulitan dalam topik pythagoras. Tapi, sekarang Putri punya trik.
”Saya tanya bagaimana cara mengerjakan soal itu kepada teman yang mengerti,” ungkap Putri.
Di sekolah Putri, tidak hanya pelajaran matematika yang menggunakan pembelajaran aktif. Seluruh mata pelajaran juga mempraktikkan metode ini. Praktik ini dimungkinkan, karena semua guru SMPN 2 Binjai sudah dilatih modul Better Teaching and Learning 2 (BTL2) lewat pelatihan replikasi.
Menurut Kepala SMPN 2 Binjai, Pak Hanafi, ide menggelar pelatihan re-plikasi datang dari kebutuhan sekolah.
Pak Hanafi ingin kualitas pembelajaran di SMPN 2 Binjai meningkat. Tapi rencana besar itu punya kendala. Dari 73 guru di SMPN N 2 Binjai, baru 16 guru yang dilatih DBE3. Keadaan ini men-yulitkan Pak Hanafi untuk meningkatkan kualitas secara keseluruhan. Demi menggenjot kualitas sekaligus pemerataan kemampuan, maka Pak Hanafi melakukan pelatihan replikasi modul BTL2. Pelatihan dilaksanakan lima hari (23-28/12/2009) dengan peserta sebanyak 57 guru.
Biaya pelatihan diambil dari biaya sekolah dan dukungan alumni. Setelah pelatihan SMPN2 Binjai tampak berubah. Kelas-kelas mempraktikkan pembelajaran ak-tif. Kesenjangan antara guru yang dilatih DBE3 dan belum dilatih, tidak lagi begitu tampak. Kini SMPN 2 Binjai sudah bisa mempraktikkan whole school approach secara menyeluruh.
Suasana belajar di SMPN 2 Binjai. Siswa duduk berkelompok dan karya siswa menempel di sekujur dinding kelas.
Siswa menggunakan lapangan untuk melakukan ujicoba fisik dalam topik pesawat sederhana.
Guru bidang kesenian juga menggunakan pembelajaran aktif dalam mengampu mata pelajaran. Ini adalah dampak dari pelatihan replikasi.
Karya siswa berupa naskah drama dipamerkan di dinding kelas.
|
|
Para Penggiat Replikasi
MEREKA berdua dikenal kompak dan bersemangat. Asmawati, S.Pd dan Samsul Agus, S.Pd, fasilitator daerah DBE 3. Di kalangan pendidik, keduanya dikenal sebagai guru kreatif dan inovatif. Melalui peran aktfnya, replikasi/diseminasi DBE3 menggeliat bagai jamur tumbuh di musim hujan. Menurut bu Asma, banyak kepala sekolah yang ingin meningkatkan kualitas pembelajaran.
“Tapi mereka bingung mencari cara untuk melakukannya,” kata guru Bahasa Indonesia SMAN 7 Binjai itu.
Modul yang dikembangkan DBE3 bagai oase di padang gurun. Modul-modul itu sangat membantu sekolah. Itu sebabnya bu Asma rajin menginformasikan tentang pelatihan-pelatihan DBE3 kepada sesama guru dan kepala sekolah. Berbekal pengalaman sebagai fasilitator nasional District Facilitators (DFs) DBE3, Ibu Asma sering diundang memfasilitasi pelatihan replikasi.
Menurut Samsul Agus, S.Pd rekan seprofesinya yang juga aktif sebagai DF DBE 3, modul-modul DBE3 praktis digunakan. Itu yang membuat banyak sekolah meminta mereka untuk memfasilitasi pelatihan replikasi.
Lantas mengapa dirinya begitu giat mendorong replikasi ke sekolah-sekolah. “Kami sudah banyak mendapatkan pelatihan. Kami punya tanggung jawab untuk membagikannya,” ungkap Pak Agus.
|
Ibu Asma, berbatik merah, saat memfasilitasi pelatihan replikasi di SMPN 1 Selesai, Langkat.
|
|
Inovasi Pendidikan: Media Komunikasi SMP dan MTs
|
Edisi 06/Mei 2010
|
|