|
Berita Dari Provinsi
|
Halaman 12
|
Perubahan di SMPN 13 Purworejo
SMPN 13 Purworejo telah mereplikasi Modul dasar, khususnya modul BTL 1 pada bulan Agustus 2009. Tidak sedikit guru yang menerapkan metode pembelajaran aktif seperti metode yang DBE 3 terapkan.
Menurut Kepala SMPN 13 Purworejo Dra. Sri Iriani, M.M tugas guru salah satunya menyiapkan materi pembelajaran. Jadi tidak ada alasan kalau ada guru yang berkata bahwa tidak ada waktu untuk menyiapkan materi pembelajaran.
Seperti yang dilakukan Rukmo Wijayanti, S.Pd.Ina, guru bahasa Indonesia. Meski jarak tempuh dari rumah ke sekolah relatif jauh, namun dirinya tetap menyiapkan materi pembelajaran untuk kelas yang diampunya. Suasana pembelajaran di kelas Ibu Rukmo selalu diwarnai dengan proses siswa belajar aktif.
|
Ibu Rukmo tampak aktif mendampingi kelompok yang sedang mempelajari pesan singkat atau memo. Ibu Rukmo memberikan dua pesan singkat yang berbeda, dan siswa secara berkelompok diberi tugas untuk mengidentifikasi memo berdasarkan contoh yang ada, apa saja unsur-unsur dalam memo. Setelah itu, siswa mempresentasikan hasil diskusinya dan kemudian ditanggapi oleh siswa lain.
|
Gustami, Siswa SMPN 13 Purworejo:
Pembelajaran aktif membuat pelajaran menjadi lebih jelas. Apalagi bila hasil karyanya dipajangkan, merupakan suatu kebanggaan dan bisa untuk belajar teman-teman yang lain.
|
|
Guru dan pajangan hasil karya siswa di SMPN 13 Purworejo: Inilah bukti nyata pembelajaran aktif. Siswa menghasilkan karya dengan berpikir kritis. Hasil karya ditulis sendiri dengan kemampuan berbahasanya.
|
|
|
SMP 2 Jekulo Memperkaya Media
DI SMP 2 Jekulo semua kelas ramai dengan pajangan karya siswa. Rata-rata guru yang mengajar mapel IPS, IPA, Matematika, Bahasa Indonesia, dan Bahasa Inggris antusias dengan pembelajaran ala DBE3. Para guru mendorong siswa mengembangkan media murah pada KD yang memungkinkan dieksplorasi bersama siswanya.
Ihda Farida guru IPA di sekolah ini, merasa sangat terbantu dengan karya siswa yang menciptakan media untuk topik Perubahan Energi”. Dari lima kelompok, siswa berhasil menciptakan lima media berbeda. Demikian halnya guru lain yang juga gemar menciptakan media dari bahan bekas yang mudah didapatkan. Teramat banyak media dan karya siswa, sekolah kesulitan untuk menyimpannya. ”Saya tengah menyiapkan rak besar untuk menyimpan semua media itu supaya terawat dan tidak cepat rusak,” kata Farhan, M.Pd, Kepala SMP 2 Jekulo.
Menurut pak Farhan, sekolahnya berupaya memberi pelayanan yang terbaik bagi siswa dengan biaya yang terjangkau. ”Alhamdulillah orang tua melalui komite memberikan dukungan atas putra-putri mereka di sekolah yang termurah di Jekulo,” tukas pak Farhan.
|
Ibu Ihda Farida menunjukkan media pembelajaran hasil karya siswa.
|
|
|
Inovasi Pendidikan: Media Komunikasi SMP dan MTs
|
Edisi 06/Mei 2010
|
|