HOME:HALAMAN UTAMA
  Berita DBE3 EDISI 5
  
 Berita & Artikel
  
 Informasi Baru
 Mengenai Kami
 100 Kunjungan Terakhir
  

  
 Login
  
Login:
Pass:
Register?
  

 Berita Utama

Halaman 2 


SMPN 19 Purworejo: Memanfaatkan Media Hasil Kreasi Siswa

SMPN 19 Purworejo merupakan contoh kongkret sekolah yang sudah mendorong guru untuk mengembangkan dan menggunakan media yang terjangkau, termasuk memfasilitasi siswa dalam mengkreasi media pembelajaran Matematika.

Aura Matematika yang menyenangkan sudah tampak pada pajangan hasil karya siswa di luar kelas di SMPN 19 Purworejo.

“Di sekolah kami, kelas matematika didesain sebagai model menuju moving class,” kata Daryanto,S.Pd Kepala SMPN 19 Purworejo. Menurutnya, kelas tersebut merupakan bentuk dukungan sekolah atas kreativitas Pak Eko, panggilan sehari-hari Eko Juli Sarwono, yang telah mengimplementasikan pembelajaran matematika yang aktif, kreatif, dan menyenangkan. “Hal ini akan diikuti mata pelajaran lainya,” tambah Pak Dar.

Kelas matematika ini dirancang untuk mendekatkan matematika kepada anak-anak. Suasana matematika sudah tampak dari pajangan di luar kelas, pintu, semua dinding kelas, langit-langit, dan masih ada beberapa rak di bagian belakang ruang kelas. Semua pajangan tersebut adalah hasil karya anak. Karya tersebut akhirnya menjadi media bagi mereka dan menjadi sumber belajar baru. Setiap produk yang dihasilkan dilengkapi dengan LK (Lembar Kerja) dan hasil

Pak Eko menunjukkan kelas Matematika, semua media dipajangkan di ruangan kelas dan kursi sudah diatur untuk pembelajaran kooperatif.

diskusi masing-masing kelompok. Pengaturan pajangan dirancang agar anak mudah untuk mengaksesnya. Apakah mahal untuk menghasilkan media-media tersebut? Tidak sama sekali. Menurut Pak Eko dirinya mendorong siswa untuk menggunakan bahan yang berasal dari barang-barang daur ulang seperti keping CD bekas untuk mempelajari lingkaran, kardus bekas untuk membuat kerucut dan sebagainya.

Pajangan akan diganti dalam kurun waktu sekitar 3 bulan kemudian disimpan untuk diportofoliokan. Kelas ini digunakan pada saat jam matematika. Tempat duduk sudah diatur untuk metode cooperative learning dan pada saat-saat tertentu siswa bebas menentukan pola tempat duduk yang mereka sukai termasuk duduk di lantai. Mengakhiri cerita mengenai kelas matematika di SMP 19 Purworejo, Pak Eko mengatakan bahwa mencapai target pembelajaran yang maksimal, guru harus berani ‘gila’ dalam berkreasi dan berinovasi.

Siswa secara berpasangan memperhatikan petunjuk pembuatan mie instan yang ada dibungkus untuk mengetahui jenis bahasa petunjuk.

Belajar dari Bungkus Mie Instan

SUMBER belajar ternyata melimpah di luar sekolah dan murah, seperti bungkus Mie misalnya. Bungkus mie yang kita temui sehari-hari pun dapat menjadi media belajar untuk membelajarkan siswa tentang bahasa petunjuk, demikian penjelasan pak Arief Budi, guru Bahasa Indonesia MTsN Karangmojo.

Banyak guru beranggapan bahwa program DBE3 identik dengan pembelajaran mahal, padahal saya ternyata mampu berkreasi dengan bungkus mie instan yang menjadi sampah rumah tangga bisa dijadikan media/sumber belajar.

Barang yang sederhana dan banyak dijumpai dilingkungan sekitar dan sudah tidak bermanfaat, ternyata mampu menginspirasi mereka untuk mendalami materi pelajaran. Dampaknya, anak akan lebih peka terhadap lingkungan sekitarnya dan akan melakukan eksplorasi imajinasinya.

 Inovasi Pendidikan: Media Komunikasi SMP dan MTs

Edisi 05/Februari 2010