Inovasi Pendidikan
USAID Indonesia Inovasi Pendidikan DBE Indonesia
 HOME:HALAMAN UTAMA
  Berita DBE3 EDISI 11
 Berita Dari Lapangan
 DBE Inovasi Downloads
  



  
 Membaca Newsletter
  
Membaca Newsletter Inovasi Pendidikan

  
 Search Inovasi Pendidikan
  

     
powered by FreeFind
  
 Mengenai Kami
 100 Kunjungan Terakhir
  

  
 Login
  
Login:
Pass:
Register?
  

 Berita Dari Provinsi

Halaman 7 


Sumatera Utara

Siswa berkesempatan berdiskusi dengan petugas Lapas.

Belajar dari Pelaku Kejahatan

"SAYA mewawancarai Pak David Hutarabat. Umurnya 50 tahun. Wajahnya lebar, sorot matanya tajam dan suaranya besar. Pak David punya dua istri. Ia dipenjara karena kasus perampokan dan pembunuhan di Tapanuli Utara. Pak David memimpin kelompok perampok. Mereka tidak hanya merampok harta pada korban, tapi juga membunuhnya...," tulis Rizky Ananda Syahputri, siswi kelas VII MTsN Sibolga, dari hasil kunjungannya ke Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Sibolga.

Rizky merasakan kesan khusus ketika melawat LP. Di sana ia diizinkan bertemu dengan narapidana lalu mewanwancarainya. Rizky merasa takut pada awalnya, karena ia tidak pernah berbicara dengan seorang kriminal. Namun setelah wawancara berlangsung lebih dari lima menit, Rizky sudah mulai nyaman. Ia bahkan punya kesan khusus terhadap narasumbernya." Pak David Hutabarat bilang Ia menyesal atas semua perbuatannya. Ia ingin menghabiskan sisa hidupnya dengan bertobat...," kenang Rizky.

Rizky adalah rombongan kelas VIII yang mengunjungi Lapas. Di bawah bimbingan Ibu Rita guru IPS MTsN Sibolga, Rizky belajar KD tentang pengendalian sosial. Mereka menggunakan metode out doors sebagai Lapas sebagai sumber pembelajaran. Menurut Ibu Rita metode out doors lebih memberikan kesan khusus kepada siswa. Selain itu metode out doors mampu menaikkan nilai siswa. Ibu Rita menjelaskan bahwa metode out doors adalah model dimana siswa dibawa langsung belajar ke lokasi yang berhubungan KD.

"Saya pernah mencoba metode in doors di kelas, hasilnya tidak begitu baik, 30 persen siswa saya tidak mencapai nilai ketuntasan. Nilai rata-rata yang dicapai hanya 70...," terang Ibu Rita. Ibu Rita mengubah pola pendekatan untuk KD pengendalian sosial. Siswa tidak lagi dibuat belajar di kelas, tetapi bawa ke Lapas. Di sana mereka siswa diminta melakukan wawancara. Hasil wawancara dipresentasikan di depan kelas. "Hasilnya cukup baik, 85 persen siswa saya mencapai nilai ketuntasan. Nilai-nilai rata siswa menjadi 77, dari nilai 75 sebagai nilai kreteria ketuntasan minimal (KKM) ...," tukas Ibu Rita.

Ibu Rita membekali siswanya dengan lembaran kerja (LK) sebelum mengunjungi lapas. Di dalam LK siswa diberikan instruksi untuk menanyakan beberapa pertanyaan kepada orang yang diwancarai. Dari proses itu, siswa diharapkan bisa mengenali jenis-jenis kejahatan sosial." Tapi yang terpenting, siswa dapat menarik hikmah...," jelas Ibu Rita. Menurut Ibu Rita lebih lanjut, siswa tidak cukup melakukan wawancara dengan narapidana.

Mereka juga diminta melakukan wawanacara dengan orang tua, guru, ustad dan ustajah. Wawancara ditujukan untuk mengali informasi tentang penyimpangan sosial dan cara pengendaliannya. "Lewat wawancara itu siswa bisa mengenali pengendalian sosial. Jika mereka sudah tahu jenis penyimpangannya, setidaknya mereka bisa menentukan jenis pengendaliannya," terang Ibu Rita.

Siswa bertemu langsung dengan para narapidana dan mewancarainya.

 Inovasi Pendidikan: Media Komunikasi SMP dan MTs

Edisi 11/September 2011