Inovasi Pendidikan
USAID Indonesia Inovasi Pendidikan DBE Indonesia
 HOME:HALAMAN UTAMA
  Berita DBE3 EDISI 11
 Berita Dari Lapangan
 DBE Inovasi Downloads
  



  
 Membaca Newsletter
  
Membaca Newsletter Inovasi Pendidikan

  
 Search Inovasi Pendidikan
  

     
powered by FreeFind
  
 Mengenai Kami
 100 Kunjungan Terakhir
  

  
 Login
  
Login:
Pass:
Register?
  

 Berita Utama

Halaman 5 


Menaklukan UN dengan Service Learning

Tes B adalah tes uji coba UN sebelum kegiatan dilakukan. Rerata nilai uji coba tersebut adalah 6,16. Ada 3 siswa yang tidak lulus sesuai dengan standar kelulusan UN. Tes A adalah tes setelah kegiatan berlangsung. Tes A1 diberikan setelah tahap I. Tes A2 diberikan setelah tahap II. Tes A3 diberikan setelah tahap III. Hasil tes A1 menunjukkan, masih ada 1 siswa yang belum lulus, sedangkan nilai rerata tes A1 adalah 6,61. Tes A2 menunjukkan semua siswa lulus, dengan nilai rerata 7,36. Tes A3 menunjukkan semua siswa lulus, dengan nilai rata-rata 8,13

Tahap Persiapan, siswa menyusun langkah-langkah pembelajaran.

"JANGAN omong doang, selalu terngiang usai menjadi Fasilitator Nasional DBE 3 tahun 2001. Berkat pelatihan DBE 3, saya jadi memahami 'Service Learning' yang kemudian saya pelajari dan praktekkan di kelas untuk menaklukkan ujian nasional (UN)," kata Bu Supartinah guru SMPN 1 Karanganyar, Jawa Tengah yang juga fasilitator daerah DBE3.

'Service Learning' adalah pembelajaran melalui pelayanan. Istilah ini banyak dipakai dan diterapkan di Amerika. Di Jerman penerapan pembelajaran melalui pelayanan dikenal dengan nama Learning by Teaching. Banyak hal yang bisa dilakukan siswa dalam Service Learning. Salah satunya, siswa memfasilitasi pembelajaran untuk orang lain, terutama di level bawah. Untuk bisa memfasilitasi dengan baik, tentunya mereka harus menguasai materi. Di sinilah muncul hubungan yang saling menguntungkan. Misalnya, siswa kelas 9 mendapat keuntungan berupa penguasaan materi, siswa kelas 7 mendapat pembelajaran yang menyenangkan.

Cara melaksanakan pembelajaran ini sebagai berikut:

  1. Siswa dibagi menjadi beberapa kelompok kecil. Setiap kelompok beranggotakan 5 orang
  2. Setiap kelompok diberi materi yang harus dipakai untuk memfasilitasi pembelajaran. Untuk mata pelajaran Bahasa Inggris dasar pembagian materi bisa jenis teks (description, recount, narrative, procedure, report dan short functional text)
  3. Siswa bekerja dalam kelompok merancang pembelajaran yang akan mereka sampaikan.
  4. Siswa melakukan presentasi secara bergantian.
"Guru berperan sebagai fasilitator, terutama mendampingi saat persiapan," tukas Bu Supartinah. Dari penelitian sederhana yang dilakukannya, ternyata hasilnya cukup memuaskan seperti nampak dalam tabel yang menunjukkan peningkatan nilai ujicoba UN dan nilai UN.

Memperkuat Kapasitas DF

MENJELANG berakhirnya program, DBE 3 melaksanakan Refresher Training untuk distrik fasilitator. Kegiatan tersebut dilaksanakan di enam provinsi mitra DBE 3 yang difokuskan pada peningkatan kapasitas DF dalam melakukan fasilitasi, pendampingan, evaluasi dan capaian perubahan pasca pelatihan. Beberapa materi yang dilatihkan diantaranya melakukan bedah kompetensi dasar (KD), kaji lembar kerja, media, langkah pembelajaran, penilaian, dan pengelolaan hasil karya siswa dari hasil bedah KD. Selain itu para DF juga dilatih dalam memfasilitasi kegiatan MGMP dan mengimplementasikan jurnal refleksi menjadi bahan penelitian tindakan kelas. Dengan cara ini, para DF dapat menyebarluaskan praktik yang baik dalam pembelajaran melalui MGMP.

 Inovasi Pendidikan: Media Komunikasi SMP dan MTs

Edisi 11/September 2011