|
Berita Dari Provinsi
|
Halaman 13
|
SMPN 2 Grobogan Tinggalkan Pembelajaran Searah
|
Mendorong interaksi antar siswa dalam pembelajaran dapat membuat siswa terlatih dalam berpikir kreatif dan kritis.
|
SELAMA ini Drs. Gati Wibowo Kepala SMPN 2 Grobogan merasa lebih nyaman melakukan pembelajaran searah, lantaran tanpa harus melakukan persiapan ini itu, ribetlah. Pendek kata, langsung tancap gas sesuai skenario sang sutradara, pembelajaran berjalan dengan dominasi guru full, sementara siswa sebagai pendengar sampai last menit.
"Begitu yang saya terapkan dengan perasaan lega keluar ruang kelas dalam hati berguman, kan materi sudah disampaikan sesuai target, waktu dan materi. Terbersit kegelisahan dalam benak saya mengenai pemahaman siswa yang sudah saya sampaikan, apalagi bekal siswa yang dapat diterapkan dalam kehidupan seharihari" kata pak Gati mengenang.
Dalam pembelajaran searah atau non-dialogis, guru tampak aktif namun siswa tidak demikian. Kenyataan yang ditemui sebagai berikut: tidak terlibat pembahasan, respon siswa tidak terungkap, eksplorasi pemikiran siswa belum ada, interaksi siswa belum terjadi, partisipasi siswa dalam materi belum nampak, bisa ditebak kemudian siswa hanya mengandalkan pendengaran. Pada akhirnya siswa pun mudah lupa terhadap materi yang sudah disampaikan.
Setelah mengikuti pelatihan DBE3 dan menerapkan pembelajaran yang kooperatif, apa yang terjadi? Respon siswa luar biasa dan mulai antusias dari awal sampai akhir, terjadi interaksi guru dengan siswa baik klasikal maupun kelompok bahkan siswa mendapatkan bimbingan saat kerja kelompok. Demikian juga interaksi antar siswa, siswa saling bertukar pendapat dan menghargai perbedaan dalam menyelesaikan pekerjaan yang dikerjakan bersama-sama.
"Saat saya mengamati diskusi kelompok siswa tentang menawar harga barang di toko Swalayan, siswa mampu menjawab tentang keunggulan yang diperoleh saat berbelanja di pasar swalayan. Mereka berkesempatan untuk mendapatkan aneka barang sesuai dengan merek, ukuran dan harga yang bervariasi sesuai dengan kebutuhan dan uang yang kita miliki. Hasil diskusi ini menunjukkan siswa telah mempersiapkan pengalaman sebagai hasil praktik saat berdiskusi. Tentu, hal ini lebih baik daripada sekedar menjelaskan transaksi pasar swalayan," urai Pak Gati.
Siswa pun merasa puas saat hasil pekerjaannya diterima dan dihargai oleh siswa lain. Demikian pula, siswa lain tidak malu saat ingin mengetahui lebih lanjut mengenai pembelajaran. Mencari solusi dari permasalahan yang ditemui saat pembelajaran bersamasama siswa menunjukkan ekpresi kepuasan setiap siswa yang terlibat. Metode pembelajaran searah cenderung mendorong siswa untuk terpaku pada pemikiran guru, tetapi usai pelatihan DBE 3 saya belajar untuk mengajak siswa berpikir lebih kreatif dan kritis.
"Saya mengajak semua guru di sekolah untuk melakukan hal yang sama. Sekarang pembelajaran searah sudah ditinggalkan SMPN 2 Grobogan. Pembelajaran yang membangun dialog kritis antara siswa dan guru sudah dibudayakan," katanya lagi
|
Seting kelas di SMPN 2 Grobogan telah mendukung proses belajar yang mendorong interaksi antar siswa.
|
|
Inovasi Pendidikan: Media
Komunikasi SMP dan MTs
|
Edisi 11/September 2011
|
|