Inovasi Pendidikan
USAID Indonesia Inovasi Pendidikan DBE Indonesia
 HOME:HALAMAN UTAMA
  Berita DBE3 EDISI 11
 Berita Dari Lapangan
 DBE Inovasi Downloads
  



  
 Membaca Newsletter
  
Membaca Newsletter Inovasi Pendidikan

  
 Search Inovasi Pendidikan
  

     
powered by FreeFind
  
 Mengenai Kami
 100 Kunjungan Terakhir
  

  
 Login
  
Login:
Pass:
Register?
  

 Berita Dari Provinsi

Halaman 12 


Jawa Tengah


BTL Bukan Hanya Milik 5 Mata Pelajaran

Peserta pelatihan BTL 2 mata pelajaran Pendidikan Agama Islam tengah menyampaikan idenya.

SEIRING akan berakhirnya program DBE 3 (bulan Oktober 2011), bukan berarti menyurutkan semangat para guru Mitra maupun non mitra untuk melaksanakan pembelajaran bermakna. Semula program pelatihan memang hanya ditujukan kepada 5 guru mata pelajaran (Mapel) yaitu Bahasa Indonesia, Bahasa Inggris, Matematika, IPA dan IPS. Dalam perkembangannya guru-guru di luar 5 mapel tersebut juga menginginkan penularan pembelajaran. Di kabupaten Purworejo, pelatihan BTL 2 guru non 5 mapel, diselenggarakan secara gotong royong alias mereka secara mandiri dibiayai oleh sekolah.

Dalam pelatihan kelompok guru-guru non 5 mapel dari MTS negeri ataupun swasta yang menjadi mitra DBE 3. Antusias dari peserta latihan luar biasa, sebab mareka dari maple yang berbeda karakter namun tampak enjoy dan dapat merngikuti pelatihan dengan sungguh -sungguh, padahal pas hari libur sekolah lho? Walaupun kadang nampak hal-hal yang menimbulkan kelucuan karena guru pendidikan jasmani harus berpraktek bersama dengan guru seni budaya atau guru agama.

Untuk tempat pelatihan dan praktek mengajar dilaksanakan di MTsN Purworejo. Jumlah peserta ada 60 orang dengan latar belakang maple yang diajar Al Quran Hadist, Akidah Akhlak, Sejarah Kebuadayaan Islam, Bahasa Arab, Seni Budaya, PenJaskes, IPS, PKn, Matematika, Bahasa Inggris, Bahasa Indonesia, Bahasa Jawa, BTA. Pelatihan ini memang tampak istimewa sebab para DF harus menghadapi 13 macam guru mapel yang berbeda. Unik, betul !, Ini sebuah tantangan bagi para DF, walaupun diawal dibayangkan aka nada kesulitan komunikasi, namun ternyata justru para peserta dapat dibanggakan, hal ini terbukti dari refleksi tiap kali pertemuan.

Jika guru-guru mau berubah dalam Pembelajaran secara ikhlas, halangan dan rintangan akan mudah teratasi. Sebuah inovasi dalam Pembelajaran itu mutlak diikuti oleh guru. Sebagai pendidik seorang guru tidak boleh merasa ilmu yang dipunyai sudah final dan tidak dikembangkan lagi, yang tentunya guru harus tetap berpijak pada "pendidikan sepanjang hayat" atau "Life long education". Dengan pelatihan guru-guru non 5 mapel di sekolah mitra DBE 3 di kabupaten Purworejo, mungkin akan dapat menjawab dari tuntutan pendidikan sepanjang hayat.


Asyik Menghitung Koordinat

PEMBELAJARAN matematika menghitung koordinat ini memanfaatkan tanah lapangan hijau sekolah. Caranya lapangan dengan dilengkapi garisgaris kordinat yang terbuat dari tali rafia. Harapan saya dengan garis kordinat yang terbentang di lapangan hijau pembelajaran Matematika akan mengasyikan karena kegiatan pembelajaran akan mengaktifkan aspek kognitif, afektif, dan psikomotor siswa untuk memecahkan masalah.

Menghitung koordinat di luar kelas, membuat belajar Matematika menjadi lebih menyenangkan.

Pertanyan pada lembar kerja siswa tidak lagi berupa angka namun berbentuk narasi narasi yang mengasyikkan dan dihubungkan dengan isu yang sedang berkembang. Misalnya tentang sepak bola, rumusan yang dibuat: rumah pesepakbola nasional Irvan Bachdim terletak pada kordinat (-3, 7) selanjutnya pada setiap hari sabtu dan minggu mengikuti pelatnas di Senayan dengan kordinat (6, -9) dan seterusnya. Saat mencari kordinat di lapangan hijau siswa diberi kesempatan untuk mengamati gerak gerik teman yang lain. Apabila kurang benar menentukan titik kordinat di lapangan hijau, mereka bisa langsung memberikan masukan yang dikerjakan temannya.

Penampang koordinat di lapangan hijau dari tali rafia menjadi hasil karya siswa. Artinya, media pembelajaran dibuat dan dipakai sendiri oleh siswa secara berkelompok. Guru hanya memfasilitasi pembuatan penampang kordinat dengan memberikan fasilitasi berupa pendampingan yang berupa perintah untuk membuat penampang, pengadaan tali rafia beserta penambat talinya, mengukur jarak antara kordinat satu dengan lainya. Pelaksanaan teknis di lapangan dikerjakan sendiri oleh siswa secara berkelompok.

 Inovasi Pendidikan: Media Komunikasi SMP dan MTs

Edisi 11/September 2011