|
Berita Dari Provinsi
|
Halaman 10
|
MGMP Bantu IPA Menjadi Nyata
SMPN 1 Rengasdengklok, Karawang
|
Aktif di dalam MGMP, membuat para guru memiliki banyak ide untuk membuat pembelajaran IPA menjadi menarik.
|
MUSYAWARAH Guru Mata Pelajaran (MGMP) Ilmu Pengetahuan Alam melalui pola pelatihan BTL4 dari DBE3, memberikan banyak solusi dan menginspirasi kebanyakan guru bahwa MGMP tak hanya ajang untuk kegiatan pemecahan masalah pembelajaran dalam pelaksanaan tugas sehari-hari, tapi juga dapat difungsikan sebagai bengkel kerja (workshop) serta sebagai kegiatan berbagi (sharing) dan pengkajian lebih lanjut berbagai konsep, metode dan hal-hal lain yang menyangkut kegiatan dalam rangka meningkatkan kualitas pembelajaran. Dengan fungsi seperti ini MGMP tak akan lekang oleh waktu dan akan selalu dibutuhkan untuk selalu diadakan secara berkala dan terprogram.
Kegiatan MGMP IPA yang dipandu oleh Fasilitator Daerah DBE3, dengan kegiatan pendampingan untuk menguji dan memperbaiki program pembelajaran yang dibuat, mampu menumbuhkan berbagai inovasi dan pemecahan masalah secara up to date dan factual. Karenanya, guru mampu mengatasi masalah yang ada dengan cepat, efektif dan efisien. Pada mulanya guru merasa begitu hebat saat membuat perangkat pembelajaran namun ketika diujicobakan pada siswa ternyata tidak semua anak mampu menyerap semua materi.
Kemudian guru melakukan perbaikan terhadap lembar kerja (LK) yang ada, sehingga LK bisa benarbenar memberikan efek pembelajaran yang maksimal. Kadang perbaikan harus dilakukan berkali-kali. Ini terjadi karena memang tantangan baru akan selalu muncul dan tantangan ini memerlukan penanganan serius. Dan tantangan ini harus dijawab secara proaktif sesuai dengan perkembangan yang menyertainya. Di SMPN 1 Rengasdengklok kegiatan MGMP IPA memberikan sesuatu yang positif, diantaranya siswa mampu lebih cepat memahami materi pelajaran sehingga guru mengajar lebih singkat.
Guru memberdayakan siswa dan melakukan pembelajaran secara team teaching yang bersinergi secara harmonis, sehingga siswa mendapat "perhatian dan pengawasan serta kasih sayang" yang sama dari guru walau kelas tersebut sudah overload, yakni di atas 40 orang per kelas.
Nuansa yang sama dalam hal perbaikan proses kegiatan pembelajaran terjadi di MTs Negeri Rawamerta, yang memberikan kesempatan kepada siswanya untuk membuat grafik gerak lurus beraturan dengan menggunakan alat-alat sederhana namun cukup refresentatif dalam melaksanakannya.
Bola dan stopwatch ternyata mampu membantu siswa dalam memvisualisasikan hal yang berhubungan dengan gerak lurus dengan dan benar.
Hal menarik tentang fisika juga dikembangkan oleh Ibu Epi Pitriah, S.Pd. dengan mencoba mempraktikan gaya gesek. Dari hasil praktik gaya gesek siswa menemukan bahwa gesekan bukan hanya akan menjadi menjadi kendala atau hambatan, tetapi bisa juga digunakan untuk suatu hal yang menguntungkan: mislanya ketika kita menggunakan rem pada kendaraan.
Bu Epi juga memberikan kesempatan pada siswa untuk merasakan gaya gesek. Bu Epi menumpukkan buku dan buku itu diberi beban secara bertahap. Kemudian buku itu ditarik oleh pegas. Dengan percobaan seperti ini, fisika tak lagi sekedar khayalan tapi kenyataan yang dapat dibuktikan secara ilmiah.
|
Inovasi Pendidikan: Media
Komunikasi SMP dan MTs
|
Edisi 11/September 2011
|
|